Minggu, 20 Desember 2009

BDP

Belajar dari Perjalanan

buku_honimun_

Sumber:, buku perpus
Pengarang: Franz Wisner
Penerbit: Serambi, Desember 2008
Tebal: 485 halaman

Dua lelaki bersaudara, secara tradisional dan universal, tampaknya tak bakal bisa kompak 100 persen. Ada saat ketika mereka akan berpisah jalan dan memilih lingkungan pergaulan sendiri-sendiri. Saat itulah yang biasanya dimulai di usia remaja, ketika mereka mulai merasa terasing satu sama lain.

Franz dan Kurt Wisner merasakannya. Kakak-beradik yang berbeda usia dua tahun ini bak Kutub Utara dan Selatan ketika Franz, sang kakak, berusaha menjauh dari adiknya jika ingin diterima oleh lingkungan anak-anak remaja keren.

Titik balik hubungan keduanya terjadi saat menjelang pernikahan Franz. Sepekan sebelum pernikahan, Annie, tunangan Franz selama 10 tahun, mencampakkannya. Padahal undangan sudah tersebar dan sebagian besar biaya perayaan serta bulan madu sudah dibayar.

Kekuatan persaudaraan dan pertemanan diuji pada saat genting seperti ini. Franz punya dua pilihan, membatalkan semua rencana pestanya atau tetap berpesta tanpa mempelai wanita. Dikompori oleh adik dan teman-temannya, Franz memilih alternatif kedua dan berpesta gila-gilaan.

Tapi penderitaan belum selesai. Sepekan kemudian Franz mendapat hantaman lagi: di kantornya. Jabatannya diturunkan, meski tetap mendapat bonus tahunan yang sangat besar.

Buat pembaca perempuan, kisah ini membuktikan satu hal: pria hetero yang tangguh di dunia karier sekalipun bisa termehek-mehek ketika sendirian merutuki nasib. Juga bahwa ketika tertimpa musibah, kesedihan berlipat justru hadir ketika tak ada lagi teman yang menepuk punggung memberi dukungan dan selesainya pesta-pesta pengusir duka.

Beruntung, Franz punya Kurt, yang sikapnya tak pedulian. Sayangnya, tak terlalu banyak digali bagaimana mungkin dua lelaki bersaudara yang sudah menjadi dua orang asing tiba-tiba sepakat untuk jalan bersama. Kurt sepertinya tak membuat banyak pertimbangan ketika setuju pada rencana Franz berkeliling dunia.

Mereka merencanakan perjalanan keliling dunia begitu saja. Mereka memutuskan berhenti bekerja, menjual rumah, menyumbangkan pakaian dan perabot mereka, membuang ponsel dan menghancurkan penyeranta dengan palu. Lalu bertualang yang diawali dengan memanfaatkan paket bulan madu yang telanjur dibayar.

Franz berangkat dengan kekhawatiran mereka akan berakhir saling mencekik dalam perjalanan. Franz sering khawatir atas Kurt, yang selalu percaya pemecahan masalah selalu ada di detik-detik terakhir yang menegangkan.

Pemanasan dilakukan dengan mengunjungi teman di Rusia dan Praha. Selanjutnya, mereka bertualang selama empat tahun. Bolak-balik ke Amerika dan 60 negara, termasuk Indonesia. Padahal, dalam dunia backpacker, pergi hingga lima tahun berturut-turut sama dengan sudah waktunya memeriksakan otak ke psikiater.

uga berbagai pesan bagi calon pengembara. Misalnya, buku Lonely Planet boleh jadi panduan tapi bukan buku suci. Bisa saja Anda mendatangi suatu tempat yang disebut di buku wisata sedang populer, ternyata pada saat Anda mendatanginya tempat itu sudah ketinggalan zaman.

Mereka mencoba menikmati hidup baru, mulai di Amerika Latin, Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika, Australia, hingga Asia Tenggara. Setiap petualangan baru membawa mereka ke tempat yang lebih unik dan menarik, diwarnai kisah seru yang mereka alami.

Bertanya pada orang setempat, meski dengan bahasa tarzan, biasanya lebih menyenangkan dan kadang akurat. Dari orang-orang yang berpapasan di jalan Franz banyak belajar tentang makna hidup.

Bergabung dengan kaum backpacker juga menarik. Meski Franz tak bisa tidak mengkritik kaum ini, yang seolah menjadi duta tak resmi bangsa kulit putih yang melancong ke negeri asing. Mengagumi kekompakan dan keberanian mereka tapi juga ngeri pada cara hidup yang terlalu menyerahkan diri pada nasib di perjalanan.

Banyak petualangan aneh yang dicatat Franz dengan cukup terperinci, dari disangka pasangan gay, hingga terpaksa kabur dari perempuan di Praha, Trinidad, sampai Vietnam. Lalu dijebak menikahi gadis setempat hingga dicopet banci yang beroperasi di jalan. Mereka juga berhasil mengumpulkan sepuluh cara gila tapi efektif menangani pedagang asongan setempat.

Sayang, seperti pelancong mancanegara lainnya, mereka hanya menuju Bali saat di Indonesia. Sedikit cerita tentang Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Pulau Komodo, serta kacaunya pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Atau gagalnya rencana menjadi ahli sabung ayam ala Bali karena muntah-muntah saat salah satu ayam mati terpenggal. Semua disajikan dengan gaya bertutur yang menggelitik.

Di beberapa bagian, alur yang berulang dengan menceritakan petualangan yang sama lewat surat kepada sosok LaRue agak mengganggu. Atau kisah sakitnya Annie yang tak terlalu relevan dengan keseluruhan cerita. Sementara itu, kesadaran Franz akan cintanya pada Annie saat bertemu dengan banyak wanita cantik di dunia yang penuh petualangan hampir membuat tergelincir menjadi cerita yang cengeng.

Secara keseluruhan, membaca buku ini mengulik hasrat untuk bertualang. Minimal menjadi LaRue dan teman-temannya di rumah pensiun Eskaton, yang selalu bergairah mendengar petualangan Wisner bersaudara. Atau mengingatkan kembali bahwa beberapa ikatan persaudaraan dalam keluarga yang hilang tak berarti putus. Hanya perlu waktu dan kesempatan bersama untuk menemukannya kembali.

cintaku pergi

dalam benak ku
lama sudah tersimpan
segala rasa dan asa yang ada
ku'rasakan semua telah hilang
pergi dan terus menjauh dariku
aku ingin menjerit
meronta
namun....
hanya air mata yang mengalir
kadang aku merasa
hidup memang ga' adil
tapi aku sadar...
itu semua takdir ilahi
kesunyian selalu kurasakan
slamat tinggal kekasihku
ku'iringi kepergianmu
dengan segala tangis dan duka ku
bila kau mengerti aku..
kau tak akan pernah pergi dariku

pergilah kasihku....
pergilah sayangku....
kau kan selalu jadi bagian dari jiwaku...
kau kan selalu ada
dalam setiap aliran darahku
aku sayang kamu????

Engkau yang ada

saat-saat indah bersamamu...
mmenjirupkan udara yang segar..
engkau pancarkan matahari yang bersinar...
karena engkaulah dewiku...
yang selalu memberikan hidup dan matiku...


engkau adalah mutiara yang tak bisa ku pegang...
engaku adalah cahaya yang memancarkan keindahan
karena hanya dirimulah yang ada
ada akan hadirnya cinta dalam hidupku

angin akan menjadi saksi cuinta ini...
yang menjadikan bulan tanpa bintang
yanga menjadikan matahari tanpa cahaya
karena itulah kenyataan cinta kita...

perbedaan kitalah yang menyatukan cinta kita
dan kesamaan kitalah yang memberikan cinta
karena kitalah satu...
satu cinta, satu hati dan satu perbedaan...
yang membuat aku menjadi kuat
dan memberikan aku ketenangan
karena engkau yang ada untukku...
yang ada untuk mencintai...

Dalam Kenangan

perasaan cintaku ini...

tak bisa ku bendung lagi...

dimanakah waktu kan berkala...

menyetujui cinta ini...


aku semakin terhanyut dalam sepi..

kepedihan cinta dan kegagalannya

mengapa selalu bersemi di taman hatiku...

aku pun makin gak ngerti...

bahwa semua yang aku sayangi...

serasa pergi menjauh... meninggalkanku...

walau tidak begitu...

tapi aku mersa seperti itu...


aku memang bukan manusia sempurna...

tapi setidak-tidaknya...

aku bisa membahagiakan seseorang...

dan membuat seseorang merasa lebih berarti...

dari orang lain.....

Air Tawar

Lihat mereka (melamun kosong)
jam 8 berlalu...
kata damai urung terdengar...
bendera putih berganti kuning...
ibu2 berjalan tanpa alas kaki..
tepi sungai dipenuhi ilalang..

pagi ini bukan aku...
siang ini tak datang...
rasa ini tak berubah-ubah...
kawan lama tak mau datang...
larasati menutupi pelangi...
tundha-tunda tak terbatas...

janur kuning urung layu...
seribu tanya untuk semua...
awan berbaris urut...
bunga mekar menguning....
segaris lurus membawa kata ke pencerahan
putih...putih....putih... mencahaya..

Karya: Rizal Salechfi

Air Tawar

Ini Bukan coal aku kehilangan sahabat..
ini bukan soal aku kehilangan kekasih...
tapi ini soal ego kita yang naik membumbung..
suara jankrik dan serangga malam memenangkan aku
ku dengar suara anak kecil berbicara dewasa...


sahabat lawas tetap mekar....
sahabat baru gugur sebelum ber buah...
brung dara mencari jodohnya...
jejak-jejak pasir menghilang...
semarakkan keheningan lubuk...
roda kehidupan berputar....



sahabat abadi....
pagi...siang...malam tetap sama...
apa kata mereka angin malam...
kekasih mencari sahabat....
sahabat mencari kekasih...
itu aku anak kecil ysng bertingkah wajar...
tetsp semsngat berapi-api untuk kedepannya...
aku bukan anak kecil yang berpikir pendek...

Rizal....

Dalam Kenangan

lihatlah engaku keluar jendela ini...
burung-burung pagi tak datang menghampiri...
ibu2 jalan tanpa alas kaki...
menyusuri sungai di pagi hari...
hitam tataplah menjadi hitam...
putih tetaplah menjadi putih...

sang awan tak tampak dalam selimut...
seoarang kawan menjadi musuh...
matahari enggan menyinari lagi...
seperti bulan yang tak terlihat dilangit...
malam tetap jadi malam...
hati menjadi bisu...
mulut menjadi mata...
dan mata menjadi telinga...

sang bunga tak harum lagi
rasa sesal dalam hati...
tak bisa ku ungkiri lagi..
pasirpun enggan memberi keindahan...
panasnya matahari membakar jiwa...

sehabat menjadi sebuah sebongkah es...
yang meleleh dalam kenangan...
hujan menjadikan hati ini dingin...
seperti sang pengelana berjalan...
tak tau arah dan tujuan...
yang mesti kita jalani...
walaupun perih di hati....

Iyane....

Keluh kesah

Ni lagu boleh ngarang sendiri...
bukan maksudku tuk menghina...
dengarkanlah kenyataan ini...
salam untuk semuanya.....

matahar bersinar terang...
menyinari di setiap senyuman...
aku sendiri terus mengarang...
berkarya tanpa rasa lelah...
dan terus berkarya sampai berubah...

hasil para korban....
yang kecil jadi sasaran....
sasaran empuk para penguasa besar...
tak kenal malu tak kenal kasihan....

oh sungguh kasihan para korban...
menjadi rakyat masih susah...
hidup di tanggung masih jadi kenangan...
malam datang tanpa harapan...
anak-anak bermimpi jadi pemimpin...
terbuang dengan sia-sianya...


gara-gara sang koruptor..
cita-cita anak jadi terlantar....
sungguh laknak aku bersumpah....
ku ludahi dengan liur bauku...
yang pagi-pagi belum mandi...
jaman sekarang sudah tak aman...
indonesia jadi salah paham...
rakyat kecil hanya bersabar....
menanti perubahan negri ini.....

Karya IyaN

9 Bersaudara

kami 9 bersaudara....
kami mempunyai 9 mimpi yg berbeda......

1. Tuplaxs Maruplaxs atau biasa dipanggil IYAN mempunyai mimpi ingin mengubah indonesia atau dunia jadi lebih baik, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan atau imposible. tapi semua orang melakukannya berarti aku bisa melakukanya dengan bantuan seorang pendukung.... jadilah sejarahmu lebih baik dari sebelumnya ku yakin kalian bisa....

2. Bhegog alias Teguh mempunyai mimpi sesuatu kesuksesan dalam menggapai kebahagiaan.

3. Dhoel as rizal mempunyai mimpi ingin meneruskan cita-cita soekarno yg tertunda karena dia terbosesi atau mengenangnya dangan soekarno.

4. Sarejes alias Arye mempunyai mimpi yang baik jadi lebih baik dari sesuatu yagg mereka inginkan.

5. Gemblunge alias Deny mempunyai mimpi menjadi guru sejarah untuk masa depan indonesia.

6. Iwank alias Dwi S mempunyai mimpi agar bisa mendapatkan sesuatu yang dia inginkan yaitu kepintaran dan kecerdasan dalam kehiupan yang nyata.

7. Unyil alias Nita mempunyai mimpi memilih yang terbaik dari yang paling baik dalam segala hal aspek kehidupan.

8. Kuchan alias Mala mempunyai mimpi menjadi raja di kerajaan kecil karena lebih baik berjaya di kerajaan kecil dari pada di kerajaan besar di injak-injak.

9. Gerizh alias Susi mempunyai mimpi menjadi apa yang inginkan dihormatinya membuat hidup jai nyaman atau terkenali yang intinya merubah sikap masyarakat.

Itulah mimpi-mimpi kami... yang selalu dilakukan bersama2 untuk perubahan dalam kehidupan di dunia dan berguna bagi semuanya.

Tertanda
9 SAUDARA.
Makrifat adalah modalku......

Akal pikiran adalah sumber agamaku.....

Rindu kendaraanku....

Berzikir kepada Allah kawan dekatku...

Keteguhan perbendaharaanku.....

Duka adalah kawanku.....

Ilmu adalah senjataku....

Ketabahan adalah pakeanku.....

Kerelaan sasaranku.....

Faqr adalah kebanggaanku....

Menahan diri adalah pekerjaanku....

Keyakinan makananku.....

Kejujuran perantaraku.....

Ketaan adalah ukuranku.....

Berjihat perangiku.....

Dan hiburanku adalah dalam sembayang....