Minggu, 20 Desember 2009

Menyurusi Jejak Pemikiran WS Rendra

Judul: Rendra, Ia tidak Pernah Pergi

Tebal: xv + 388 halaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tahun: September 2009
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEggUWlmdk529OAiRuk_V0VkdhW14oSzu4ZMAO2gV8b4lCiwMHQ04kMTtqSiS8F4lKWKmBZ4nal14yJFh20o2FGtObU7WXtjRaY5MVAc14m4DHddhLgU1PI-_LO54xbuKAPhlcSBBZWrXTZn/s400/BungRendra+2.jpg

Karya-karyanya Rendra tidak hanya respon terhadap kondisi di sekitarnya, namun juga menunjukkan berbagai gagasan mengenai kebudayan yang luas dan menembus waktu.
Itulah yang dapat ditangkap dari buku ini. Dari buku ini pertama-tama pembaca dapat melihat bagaimana "ketegangan" antara Rendra dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Ketegangan disebabkan Rendra melihat ada yang keliru dalam arah kebudayaan.


Rendra mencium bahwa kebudayaan Indonesia tengah berada dalam posisi yang tersingkirkan. Artinya, tidak banyak orang yang memikirkannya secara serius untuk memperbaiki keadaan, sebaliknya atas nama perkembangan ataupun pembangunan, perlahan-lahan kebudayaan masyarakat kian disisihkan, dan akar hal ini telah terjadi sejak masa kolonial.


Rendra mencontohkan bagaimana Herman Willem Daendels yang membangun jalan berdasarkan kepentingan perdagangan, pertahanan militer dan kekuasaan. Implikasi dari itu semua itu adalah tumbuhnya sebuah ruang metropolitan. Orang-orang desa yang sebelumnya melakukan perdagangan dengan pembagian waktu berdasarakan hari pasaran dan penghayatan kosmis, kini berebut mendirikan rumah tepat di tepi jalan yang dibangun oleh Daendels (hal. 216). Akibatnya, ketidakseimbangan kosmis terjadi.


Tentu saja hal semacam itu tidak hanya terjadi di masa lalu, tetapi juga pada masa kini. Ambil saja contoh pembangunan hipermarket di kota-kota besar. Keberadaan hipermarket tersebut tidak hanya menggeser pedagang kecil, tetapi juga telah mengancam keberadaan pasar tradisional.


Pada masa lampau pasar adalah tempat terjadinya pertemuan berbagai kebudayaan. Tetapi kini interaksi tersebut terancam. Proses tawar-menawar yang menjadi pemandangan lumrah di pasar tradisional kini digantikan dengan belanja yang menghilangkan hak pembeli untuk melakukan penawaran.


Itu sebabnya Rendra secara tegas mengungkapkan bahwa sesuatu yang bersifat tradisional layak untuk dipertimbangkan kembali. Sebab bagaimanapun, tradisi lama dan kearifan tradisional dapat diolah kembali untuk memperkuat kohesi masyarakat, sekaligus sebagai modal untuk membangun bangsa dengan lebih baik dan manusiawi.


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah hal yang dilakukan oleh Rendra merupakan sesuatau yang sia-sia? Bukankah pementasan teater maupun pembacaan sajak yang dibawakan oleh Rendra tidak banyak membawa perubahaan secara signifikan?


Ternyata Rendra memiliki idealisme tersendiri dalam hal tersebut.. Bagi Rendra. Seperti dikutipkan oleh Mudji Sutrisno dalam tulisan dalam buku ini, Fenomena Koko dan Rendra Secara Budaya (Hal. 53), bahwa bagi Rendra seseorang boleh saja merasa lelah dan merasa sia-sia memikirkan gambaran keadaan manusia masa kini, namun ia tidak boleh berhenti berjuang dan bersuara memperjuangkan tegaknya martabat manusia Indonesia.


Rasanya, ungkapan Rendra tersebut bukan tanpa alasan. Rendra sendiri yakin bahwa Indonesia masih memiliki masa depan. Ini dapat ditangkap lewat ucapannya dalam sebuah wawancara. Menurut Rendra Indonesia masih punya masa depan selama masih ada pengusaha menengah dan orang-orang muda.


Menurutnya, pengusaha menengah telah terbukti kekenyalannya sejak masa tanam paksa di jaman Belanda. Kini pengusaha menengah telah dapat menyerap tenaga kerja hingga 30 juta orang. Sedangkan anak muda, dalam pengamatan Rendra, kini semakin banyak melahap buku-buku humaniora, dan semakin kritis dalam menggugat masalah-masalah kebangsaan. Bagi Rendra, fenomena ini merupakan investasi budaya.


Selain itu, Rendra juga ternyata bukan sosok yang hanya memikirkan masalah kesenian. Ia pun memikirkan bagaimana orang-orang yang hidup dari kesenian. Rendra paham benar, di Indonesia orang tidak dapat hidup melulu dari kesenian. Bahkan ia dan anggota Bengkel Teater pernah mengalami kesulitan keuangan pada tahun 1970-an.


Menurut Rendra, sulitnya menggantungkan hidup dari teater disebabkan di Indonesia belum ada infrastruktur yang memungkinkan para pemain teater bisa berkarya secara total. Di sejumlah negara maju infrastruktur semacam itu sudah dibangun. Di negara-negara semacam ini para penggiat teater tidak hanya didukung oleh agen yang profesional, tetapi juga lembaga lain, sebutlah bank, yang siap mendukung kegiatan teater. Kenyataan ini menunjukkan bahwa seluruh pihak memang memiliki keperdulian terhadap kebudayaan,


Itu sebabnya Rendra bertekad untuk membuat orang-orang dalam Begkel Teater menjadi lebih sejahtera. Hal ini terungkap dalam wawancara dengan Rendra berkaitan dengan Bengkel Teater dan para anggotanya. Dalam wawancara yang dilakukan pada tahun 1989 tersebut, Rendra mengungkapkan keinginnya untuk mendirikan sebuah padepokan (hal.149)yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dan kesejahteraan ekonomi anggota Bengkel Teater dapat terpenuhi.


Buku yang terdiri dari sejumlah tulisan yang ditulis oleh budayawan, sastrawan, sampai wartwan ini memang tidak dapat dikatakan mewakili secara keseluruhan gagasan kebudayaan seorang Rendra. Namun, paling tidak, terbitnya buku ini telah membantu terkumpulnya berbagai gagasan kebudayaan Rendra yang masih tercecer di berbagai media.

Menggagas Pendidikan Anti-Kapitalisme


metode1Sumber: BatamPos, 08 Maret 2009
Judul Buku : Metode Pendidikan Marxis- Sosialis
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: AR-Ruzz Media, Yogyakata
Terbit: Desember 2008
Tebal: 316 Halaman


Dalam banyak hal, Karl Marx lebih dipersonifikasikan sebagai tokoh ekonomi-politik serta pejuang kaum buruh. Selama ini, kajian-kajian ilmiah hanya menyoroti teori “sejarah pertentangan kelas antara kaum borjuis dan proletar” yang merupakan titik pijak pemikiran Marx. Jarang kita menjumpai diskursus yang menyandingkan pemikiran Marx dengan dunia pendidikan.

Padahal, sebagaimana diungkap dalam buku ”Metode Pendidikan Marxis- Sosialis” ini, Karl Marx bukan hanya pemikir ekonomi-politik, tapi juga seorang pemikir pendidikan kenamaan. Bahkan, menurut Nurani Soyomukti, penulis karya ini, Marx adalah plopor dan peletak teori pendidikan kritis dan pembebasan, bukan Paulo Freire sebagaimana diyakini banyak kalangan.

Dalam konteks pendidikan, Marx meramalkan “basis dari gerak sejarah sistem pendidikan dunia ditentukan oleh basis kapital (ekonomi)”. Teori ini disebut dengan “diteminisme ekonomi”. Tampaknya, ramalan Marx itu memiliki makna relevansi dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Buktinya, regulasi kebijakan pendidikan pemerintah, dalam hal ini Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), tidak lain merupakan penjelmaan penselingkuhan antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapital. UU BHP membuka akses selebar-lebarnya atas bercokolnya praktek kapitalisme (komersialisasi) ditubuh pendidikan.

Lembaga pendidikan saat ini sudah tidak lagi menjadi media transformasi nilai dan instrumen memanusiakan manusia (humanisasi), melainkan menjadi lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan finansial sebanyak-sebanyaknya. Status birokrat kampus, Rektor dan staf-stafnya, tidak ubahnya investor yang hanya memikirkan bagaimana kampus mendapatkan laba sebesar-besar dari peserta didik.

Institusi pendidikan hari ini tidak jauh beda dengan pasar. Bedanya, kalau pasar menjual bahan sembako domistik dan kebutuhan rumah tangga yang lain, sementara perguruan tinggi menjual jasa pendidikan. Mulai dari tenaga pengajar (Dosen), mata kuliah (SKS), sampai fasilitas-fasilitas kampus yang serba glamur dan seper canggih. Kampus akan melakukan apa saja, termasuk memper-“solek” lingkungan demi merekrut peserta didik sebanyak-banyaknya. Karena, semakin banyak kuantitas peserta didik, semakin besar penghasilan kampus.

Dalam kondisi seperti ini, lembaga pendidikan layaknya korporasi (konglemarasi) yang hanya memikirkan profit oriented. Tidak heran, kalau makin hari biaya lembaga pendidikan kian melonjak. Di era modern, mustahil menemukan biaya pendidikan yang bisa dijangkau orang menengah kebawah (miskin). Semakin bagus fasilitas kampus, semakin besar uang yang mesti dikeluarkan peserta didik. Padahal, mayoritas penduduk Indonesia barada dibawah garis kemiskinan. Inilah yang disebut “Pendidikan Rusak-Rusakan” dalam kacamata Darmaningtyas.

Secara historis, bibit kapiatalisme dan pragmatisme pendidikan di Indonesia sudah menyeruak pada zaman Soeharto (Orde Baru). Ketika itu, yang menjadi panglima (ideologi) pendidikan adalah “pembangunan” (developmentalisme). Pertumbuhan pembangunan dikejar habis-habisan tanpa memedulikan aspek kemanusiaan. Tak pelak, Identitas lembaga pendidikan pun sebagai media memanusiakan manusia dan penjaga gawang terakhir atas munculnya kaum-kaum terdidik dan bermoral terpasung.

Munculnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik yang konsen di dunia mesin, listrik, arsitektur, administrasi perkantoran, akuntansi, kesekretariatan dan berbagai bidang lainnya merupakan pemenuhan atas nafsu kapitalisme dan pragmatisme itu. Kehadiran SMK diharapakan meluluskan peserta didik yang siap pakai dan sesuai dengan kebutuhan praktis di bidang kerja-kerja infrastruktur pembanguanan, baik sebagai pekerja industri maupun administrator pemerintah.

Sekolah kejuruan nampaknya, menjadi idaman dan pilihan para orang tua yang ingin yang ingin melihat anaknya cepat mendapat kerja dan cepat kaya. Pendidikan yang menekankan pada keterampilan teknis sperti ini tentu saja mempunyai efek besar terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana nilai-niali pengabdian (loyalitas) terhadap bangsa dan kemanusiaan menempati posisi diatas pragmatisme.

Pragmatisme pendidikan adalah malapetaka besar bagi masa depan kemanusiaan. Jelas, kalau pola pikir pragmatisme menghinggapi anak didik, bisa dipastikan anak didik tidak munkin lagi peka terhadap bobroknya realitas kebangsaan, apalagi berjuang dan melakukan anvokasi terhadap pemberdayaan kaum-kaum marjinal (tertindas). Sebaliknya, yang ada dalam benak anak didik hanyalah bagaimana anak didik cepat mendapatkan gelar sarjana dan memperoleh profesi yang bergengsi. Sebuah ironi ditengan bobroknya realitas kebangsaan diberbagai level.

Buku ini berusaha menggagas dan menjabarkan metode pendidikan berbasis Marxis-Sosialis yang menjadi counter part atas pendidikan “kapitalisme” yang selama ini menjadi ideologi sistem pendidikan internasional. Ideologi pendidikan yang digagas marx adalah bentuk gugatan atas merasuknya budaya kapitalisme dan pragmatisme dalam tubuh pendidikan. Hali ini bisa dipahami, karena Marx adalah satu-satunya pemikir besar yang mengidealkan tumbangya budaya kapitalisme dimuka bumi ini. Dalam kacamata pendidikan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan (ideologi) pendidikan adalah membangun karakter (character building) manusia yang tercerahkan; suatu kondisi mental yang dibutuhkan untuk membangun suatu masyarakat yang berkarakter progresif, egaliter, demokratis, berkeadilan dan berpihak terhadap kaum-kaum tertindas (the oppressed).

Menurut Marx, pendidikan bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan kapital (profit), melainkan sebagai instrumen membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menempatkan manusia dalam esensi dan martabat kemanusiaanya yang sejati. Marx mengidealkan terciptanya pendidikan kritis (critical pedagogy), pendidikan radikal (radical education) dan pendidikan revolusioner (revolutionary education) yang pada gilirannya mampu mencetak manusia yang betul-betul mau memperjuangkan kaum-kaum miskin (proletar) yang nota bene korban salah urus negara.

Bagi Marx, pendidikan bertujuan mencipatakan kesadaran kritis, bukan pengetahuan dan keterampilan teknis yang mendukung proyek kapitalisme. Pendidikan yang terjebak pada pragmatisme untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan praktis yang merupakan langka adaptasi terhadap perkembangan kapitalisme merupakan eksploitasi atas esensi terbentuknya lemabaga pendidikan.

Lebih dari itu, menurut pendidikan Marxis-sosialis, tujuan preneal dari proses manusia menuntut ilmu adalah untuk mengabdi bagi kemaslahatan kemanusian. “Ilmu tidak boleh menjadi kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu pertama-tama harus menempatkan pengetahuannya demi kepentingan kemanusian” demikian fragmen statemen Marx dalam salah satu karyanya.

Apa yang diidealkan Marx itu sangat kontras dengan karakter objektif para pelajar bangsa ini. Tidak bisa dibantah, 75 % orentasi pelajar menuntut ilmu adalah untuk mendapatkan kerja bergengsi (profesi), menjadi tokoh populer, menjadi orang kaya, dan untuk mengangkat status sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Sedikit sekali pelajar yang betul-betul murni untuk memperjuangkan nasib kaum tertindas. Wajar, kalau keberadaan kaum terdidik di negara yang mayoritas muslim ini sudah tidak lagi menjadi aktor pemberdayaan kaum tertindas (the oppressed) dari belenggu penindasan dan ketidak adilan (dehumanisasi). Sebaliknya, justru kaum terdidiklah yang menjadi biang dari sekian problem sosial yang berlangsung ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Alih-alih mau mencari penawar atas sekian krisis sosial, keberadaan kaum terdidik menjadi bagian dari krisis sosial itu sendiri. Mulai dari koruptor, penjilat, politikus busuk, sampai komprador atau agen dari kepentingan global.

Kisah Teladan Sepanjang Zaman


Judul Buku: Kisah Teladan Sepanjang Zaman
Penulis :Syaikh Muhammad Yusuf
Penerbit : Citra Risalah, Yogyakarta
Cetakan : I, November 2008
Tebal : 818 halaman



Riwayat hidup para nabi dan para sahabat dan sejarah mereka telah menjadi sumber kekuatan keimanan dan perasaan keagamaan yang sangat kuat, yang tertanam pada umat ini. Dakwah-dakwah yang bernuansa agama mengambil nilai iman dari catatan perjalanan ini supaya dapat membakar bara api dalam hati, yang biasanya akan mudah padam dan membeku karena hembusan angin dan suasana materialisme. Padahal apabila bara iman di dalam hati telah padam; maka umat ini akan kehilangan kekuatan, pengaruh, dan kehormatannya, sehingga akan menjadi sebongkah jasad yang beku, yang tidak akan mampu memikul beban (cobaan) kehidupan.

Inilah sejarah orang-orang yang tersentuh dakwah Islam, kemudian mereka beriman kepadanya dan hati mereka senantiasa membenarkannya. Setiap kali mereka diajak kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, maka mereka senantiasa mengucapkan, ”Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar seruan yang menyeru pada iman, (yaitu):’Berimanlah kalian kepada Tuhan kalian,’ maka kami pun beriman.” (Q.s. Ali ‘Imran: 193).

Mereka segera meletakkan tangan mereka di atas tangan Rasulullah saw.; rela mengorbankan jiwa, harta, dan keluarga, berlapang dada ketika menghadapi kesusahan, kesulitan, dan segala tekanan dalam memegang usaha dakwah kepada Allah swt. sebagai maksud hidupnya. Keyakinan telah terpahat kokoh di dalam hati mereka, sehingga menguasai jiwa dan akal pikiran mereka. Kemudian muncullah keajaiban iman kepada yang ghaib, kecintaan kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, sehingga rahmat senantiasa dilimpahkan ke atas orang-orang mukmin, dan bencana ditimpakan ke atas orang-orang kafir. Mereka lebih mementingkan kampung akhirat daripada segala kesenangan dunia, lebih mencintai yang kekal daripada yang fana, yang ghaib daripada yang nyata, hidayah daripada adat tradisi. Mereka memiliki semangat yang tinggi dalam mengajak menusia, mengeluarkan mereka dari penyembahan terhadap berhala, dan mengajak hanya menyembah Allah swt. semata; dari kezhaliman agama-agama mereka menuju keadilan Islam, dari kesempitan dunia menuju keluasan akhirat, mengabaikan segala kesenangan dunia untuk menuju kerinduan bertemu dengan Allah swt., dan masuk surga. Mereka memiliki kemauan yang kuat untuk selalu menyebarkan Islam dan ajaran-ajaran kebaikannya ke seluruh penjuru dunia agar menyentuh wilayah Timur dan Barat, dari dataran hingga ke pegunungan.

Untuk mewujudkannya, mereka rela meninggalkan segala kesenangan dunia, tidak mau berdiam bersantai-santai dan tidak mau menjalani kehidupannya dengan tenang. Mereka meninggalkan kampung halaman dengan mengorbankan apa saja yang mereka miliki, hingga mereka mampu mengajak para tetangga untuk masuk Islam, dan hati manusia dibawa menuju ketaatan kepada Allah swt.. Oleh sebab itu, suasana iman terus berhembus membawa segarnya angin yang penuh keberkahan, negara tauhid, iman dan ibadah dapat berdiri tegak, pasar surga menjadi ramai, hidayah tersebar ke seluruh pelosok, hingga semua manusia berbondong-bondong masuk agama Allah swt..

Berbagai peristiwa yang telah mereka alami dalam kehidupan mereka memenuhi kitab-kitab sejarah. Berita tentang mereka terjaga dengan rapi di berbagai perpustakaan Islam, yang senantiasa menjadi bahan rujukan dan pembangkit dalam kehidupan orang-orang Islam. Oleh karena itu, para pekerja dakwah Islam dan para pengajar memiliki perhatian yang tinggi terhadap kisah-kisah perjalanan hidup mereka. Mereka memiliki kesanggupan yang tinggi dalam membangkitkan kemauan umat Islam dan menaburi hati mereka dengan benih iman dan semangat agama.

Tetapi ada juga masa dalam kehidupan umat Islam ketika mereka justru tidak meminati sejarah ini dan melupakannya. Para penulis, pengarang, dan para pekerja dakwah mengganti kisah-kisah mereka dengan kisah orang-orang zuhud, wali, dan para syaikh yang hidup pada masa belakangan ini, sehingga hampir semua kitab dan tulisan dipenuhi oleh kisah-kisah tersebut, ditambah dengan kisah karamah para wali. Akibatnya banyak manusia yang terpukau dan tertarik, karena majelis mereka dipenuhi dengan hal-hal seperti ini.

Kitab yang disusun ini merupakan kabar berita tentang para sahabat, sirah, kisah, dan hikayah tentang mereka. Jarang ada sebuah kitab seperti ini (dalam hal penyusunan dan nilainya), karena memang Syaikh Muhammad Yusuf menelaah dari berbagai kitab, baik kitab hadits, musnad, tarikh, maupun thabaqat. Karena itu, kitab ini hadir untuk menggambarkan keadaan yang sebenarnya pada masa itu dari kehidupan para sahabat r.anhum., keistimewaan, akhlak, dan peristiwa apapun yang terjadi pada diri mereka. Semua aspek kehidupan mereka dan berbagai macam kisah tentang diri mereka mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap penulisan kitab, yang biasanya hanya dituliskan secara ringkas saja. Namun dalam kitab ini, pembaca akan merasakan kehidupan dalam suasana iman, dakwah, keutamaan amal, akhlak, dan zuhud.

Jika memang benar bahwa kitab ini menjadi bahan yang sangat berharga bagi penulis, bahkan bisa dikatakan sebagai belahan jiwanya, beliau mencurahkan seluruh perhatian untuk menyusun kitab ini dengan segala keyakinan, bisikan hati, dan keikhlasan jiwanya. Beliau hidup dengan seluruh bahan maknanya. Maka saya berani menegaskan bahwa sesungguhnya buku ini mampu memberikan pengaruh yang besar dan sangat berhasil. Karena dalam menyusun kitab ini penulis melakukannya dengan segala keyakinan, kesenangan, semangat, dan segenap perasaannya. Beliau telah menjadikan kecintaannya kepada para sahabat bercampur dengan daging dan darahnya, kemudian membimbing perasaan dan pemikirannya. Beliau hidup sekian lama dalam suasana yang akrab dengan kisah-kisah dan sirah, dan senantiasa hidup dalam suasana ini, mengambil sumber dan mengamalkannya, hingga beliau menghadap Yang Mahakuasa (pada tahun 1965 M. atau 1384 H.).

Sebenarnya kitab ini tidak membutuhkan kata pengantar dari saya, mengingat penulisnya yang sangat ikhlas, yang menurut pendapat saya, semua ini merupakan karunia Allah swt. dan kebaikan yang dimiliki oleh zaman ini, yaitu berupa kekuatan iman dan kekuatan dakwah serta ketekunan dan ketabahan dalam menjalaninya. Hampir tidak ada seorang pun yang menyamai kedudukannya, kecuali setelah berjalan begitu lama. Beliau mampu mengarahkan gerakan keagamaan dari dasar yang paling kuat dan luas, sehingga mampu menanamkan pengaruh yang luar biasa dalam jiwa manusia. Tetapi rupanya beliau bermaksud memuliakan saya dan ingin memberikan peran kepada saya dalam usaha yang besar lagi mulia ini. Karena itu saya menyempatkan diri untuk menulis pengantar ini, dengan maksud untuk taqarrub kepada Allah swt. semata. Semoga Allah swt., menerima kitab ini serta memberikan limpahan manfaat kepada hamba-hamba-Nya.

Jiwa yang Merdeka ketika Tubuh Diperbudak


surga
Judul : Budak Pulau Surga
Penulis : Soegianto Sastrodiwiryo
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 486 halaman

Kemenangan Raja Karangasem Gusti Lanang Paguyangan saat berduel melawan Raja Pahang Canang di Bale Punduk Karangasem, justru mendatangkan malapetaka bagi rakyat Karangasem. Pasalnya Ritus Kalacakra, perayaan kemenangan, itu memakan puluhan nyawa sebagai tumbal. Inilah yang membuat rakyat Karangasem ketakutan bahkan menjual diri sebagai budak. Ini pula nasib yang menimpa I Gangsar dan Men Gansar (ibunya) bersama ratusan budak lainya. Bagaimana selanjutnya, berikut kisahnya?

Mereka menjual dirinya pada I Jablah, begal pengumpul budak, sebagai upaya penyelamatan diri. Lalu Mereka di larikan ke Pantai Pabean Buleleng dan di jual secara terpisah pada setiap penawar terbaik. Ada yang di larikan ke Batavia, Sunda bahkan ke negeri Belanda. I Gangsar bekerja pada Encik, konglomerat China. Menjadi budak, bukan itu yang mereka inginkan. Obrolan I Tombrog dan Ketut, betapa menyiratkan kebebasan yang mereka dambakan. Oleh penulis, penuturan kesengsaraan yang menimpa keluarga Men Gansar bersama budak lainya, menelan hampir separuh jumlah total halaman.

I Gangsar bukanlah budak yang menyerahkan seluruh hidupnya pada karmapala atau nasib. Baginya menjadi budak adalah menciptakan kesempatan untuk bisa berbuat selanjutnya tunggu saat yang tepat. ‘Karena menjadi budak itu berarti melompat, bagi yang mau dan menyadarainya sebagai sebuah lompatan. Banyak orang menjadi bendoro dan kaya. Memiliki banya kawulo dan tanah luas. Puri, griya, kekuasaan, kekuatan , panjak, penyeroan. Tapi mereka, sebenarnya, di perbudak oleh kekuasaanya sendiri,’ tukas I Gangsar. Halaman 73

Kisah selanjutnya di perankan oleh I Jenakih. Budak perempuan ini keturunan Jro Penyarikan dari Banguntirta. Keluarga Jro penyarikan sudah terbukti loyalitasnya. Budak perempuan

berpinggul besar dan bertubuh sintal ini sangat kokoh pendirianya. Meski seorang budak, I Jenakih berjiwa pemberani. Kedekatanya dengan Johan De Cruys, pengantar pos, semakin memudahkan jalan baginya untuk memuluskan misi yang di embanya. Dengan memanfaatkan potensi tubuhnya yang sintal, Johan De Cruys jatuh dalam pelukan I Jenakih. Praktis, setelah hubungan mereka tercium oleh nyoya-nyoya Belanda di kastil Batavia, mereka diasingkan pada wilayah yang berlainan. Johan di buang ke Ceylon selama 20 tahun untuk di pekerjakan sebagai budak dan I Jenakih di asingkan ke Mauritius.

Dalam masa pengasingan tersebut I Jenakih bertemu dengan Men Gansar, ibu kandung I Gangsar. I Jenakih sangat terharu melihat Men Gansar di barak gudang gula dengan kondisi yang memprihatinkan lagi gila. Selang beberapa bulan kabar kematian Johan sampai di telinga I Jenakih. Dan bab terakhir, di susul perjalanan I Gangsar dalam pembuangan ke Afrika yang menggunakan kapal Prince Damaira. Sebuah ending yang menyisakan tanya? Sebab, penulis tak menjelaskan apakah I Jenakih dan I Gangsar akhirnya bertemu atau tidak sama sekali?

Inilah novel dengan setting di Bali. Dalam masa penjajahan pemerintah kolonial Belanda tersebut para raja di Bali justru saling berperang untuk memperebutkan pengikut bukan wilayah kekuasaan. Penulis, mengkisahkan dampak dari peperangan tersebut di mana budak menjadi aset untuk memperkaya diri. Peperangan para raja di Bali tersebut lebih merupakan sebuah setting untuk mendapatkan kehidupan mewah yang murah dengan cara memperbudak rakyatnya. Sebab status sosial, wibawa dan karismatik para raja waktu itu di lihat dari seberapa banyak budak atau pengikut yang dimilikinya bukan dari luasnya wilayah yang di kuasai. Sehingga menimbulkan pandangan bahwa perang menjadi kemutlakan untuk berkuasa.

Dalam Budak Pulau Surga karya Soegianto Sastrodiwiryo ini merupakan sebuah novel yang mempresentasikan sejarah perbudakan di Bali di awal abad 19. Nasib atau karmapala yang di yakini masyarakat Bali sebagai sebuah hukum sebab akibat, tak lepas dari ajaran kepercayaan yang di anut waktu itu. Orang-orang jahat cuma menerima akibat perbuatan mereka. Orang-orang berbuat baik, demikian pula.

Perlu di ingat, bahwa membaca novel ini membutuhkan konsentrasi penuh agar mendapatkan pemahaman yang sempurna. Pasalnya penggunan nama tokoh, wilayah dan istilah dalam novel ini sesuai dengan nama aslinya. Juga, penerapan alur maju mundur ternyata cukup membuat kita terkecoh bahwa jebakan telah di pasang oleh penulis. Seperti penuturan kisah pertemuan I Jenakih dengan Malewa, yang sebenarnya Daeng Sakerah.

Pesan penulis dalam novel ini ingin menyampaikan pada pembaca tentang cara bagaimana perjuangan dalam hidup seseorang untuk mencapai impian dan cita-cita. Sebuah perjalanan panjang penuh onak dan duri beratap imajinasi. Ya, dari imajinasi inilah akan lahir kekuatan dan menciptakan peradaban baru yang lebih bermutu. Nampaknya cerita yang di tonjolkan dalam novel ini juga terdapat pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yaitu, pemaknaan sukses yang harus di rasakan secara bersama bukan sukses per individu. Sangat menarik bukan!

Indonesia dalam Bingkai Sejarah


indonesiaSumber: Tempo Interaktif, 13 April 2009
Penulis: R.E. Elson
Terbit : Desember 2008
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-105-3
Halaman: 580 hlm

Sejarah selalu bergulir sesuai dengan perubahan zaman. Siapa yang berkuasa, pasti dapat dikatakan merekalah yang menjadi pemegang utama dalam penulisan sejarah. Sejarah yang ditulis akan selalu menempatkan mereka pada titik tertinggi sesuai dengan keinginannya.

Benar tidaknya sejarah dalam peradaban, boleh dibilang tergantung siapa penguasanya, tak terkecuali di Indonesia. Dari sekian banyak penjajah yang pernah singgah, sejarah Indonesiapun muncul dalam banyaknya versi bak jamur di musim hujan. Setiap orang mengatakan bahwa sejarah merekalah yang benar. Akhirnya memunculkan kontroversi berkepanjangan. Dan sejarah tentang Indonesia pun menjadi sesuatu yang absurd.

Memang gagasan tentang awal pemikiran dan pembentukan Negara Indonesia sudah banyak menjadi perdebatan yang cukup alot, terlebih oleh sejarawan internasional. Pelbagai kalangan mengklaim merekalah yang memunculkan ide tentang pembentukan Indonesia. Khususnya sejarawan Belanda yang banyak memiliki data tentang Indonesia, sehingga mereka beranggapan cikal bakal Indonesia dibentuk mereka.

R. E. Elson, seorang tokoh ternama, lewat karyanya ini berusaha untuk mengenalkan kembali serta mencari asal-usul dari gagasan terbentuknya Indonesia, yang dimulai sejak pertengahan abad kesembilan belas.

Ia juga berupaya menelusuri lebih jauh lagi tentang pelbagai jalan berliku yang telah dilalui Indonesia hingga mampu eksis hingga kini. Dia mencari tahu mengapa Indonesia ada sebagai suatu negara-bangsa meskipun menghadapi begitu banyak tantangan, dan seperti apa bentuk-bentuk yang dulu pernah dilalui Indonesia.

Dia mencoba menjelaskan ciri bangsa ini dalam perjuangannya menuju kesatuan dan cita-cita. Analisisnya menyajikan narasi kronologis yang membedah politik Indonesia, tokoh-tokoh politik, serta hubungan mereka dengan rakyat Indonesia.

Jika kita telusuri lebih jauh, gagasan tentang Indonesia ini sebenarnya sudah lama mencuat. Gagasan ini pernah di lontarkan oleh JR Logan pada 1850-an. Ia merupakan seorang sejarawan dari Belanda yang berstatus sebagai editor majalah etnografi The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia.

Kurang lebih gagasan yang dimaksudkan adalah sebagai suatu bentuk mewadahi untuk apa yang kini disebut sebagai identitas Indonesia. Logan memilih, sebuah kesatuan negara-negara itu, dengan sebutan Indonesia dengan ungkapannya, “I prefer the purely geographical term, Indonesia, which merely shorter synonym for the Indians or the Indian archipelago.” Sampai kemudian pada simpulannya, “We thus get Indonesian for Indian Archipelagians or Indian Islanders.”

Sayangnya pada masa itu sulit bagi orang-orang yang mendiami sebuah kepulauan pada pertengahan abad ke-19 untuk membayangkan satu indentitas dengan 13.000 suku yang tersebar di Nusantara. Sehingga teori yang digunakan ini belum mampu diterima akal masyarakat. Ironisnya lagi masyarakat tak pernah mengetahui bahwa keterlibatannya dalam suatu ruang-waktu itu kemudian menjadi sebab-sebab adanya Indonesia.

Sembilan tahun kemudian, ketika sebuah novel monumental yang ditulis setelah pengumuman Logan tersebut, Max Havelaar (1859), karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker telah membuktikan fakta itu: semua yang digagaskan oleh JR Logan merupakan sebuah potret otentik yang bisa kembali menggugah kesadaran, yang semakin menguatkan seluruh masyarakat dunia bahwa pada dasarnya gagasan Indonesia telah terbentuk jauh pada abad-abad lampau.

Secara rasio, awal terbentuknya Indonesia memang merupakan gagasan luar biasa yang nyaris mustahil terjadi di tengah keterpurukan rakyatnya. Sepintas, bahan-bahan kesatuan nasional Indonesia tampak tak menjanjikan, sejarah Indonesia penuh noda perseteruan internal mendalam dan sering berlumur darah gara-gara perbedaan ideologi, suku, dan agama. Tapi, Indonesia sebagai konsep dan negara-bangsa terus ada, bahkan mungkin sedang mulai berjaya kembali.

Sayangnya masyarakatnya Indonesia sendiri kurang begitu antusias untuk lebih memahami awal terbentuknya Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia sudah merasa puas dengan kehidupan yang dijalani tanpa berani mempertanyakan kembali asal-usul tempat yang ditinggali.

Karya ini mencoba membenarkan bahwa Indonesia itu ada, meski hanya dalam pikiran orang, sebelum Indonesia benar-benar diwujudkan pada 1945. Secara keseluruhan, pemikiran dasar yang kontraversial tentang awal pembentukan sejarah Indonesia semuanya dikupas lebih jauh dalam buku ini (hal xxix).

Dengan piawai Elson memberikan penjelasan kepada seluruh masyarakat Indonesia secara lebih tepat dan terperinci tentang sejarah intelektual awal dari “gagasan dan ide terbentuknya negara Indonesia”. Suatu gagasan yang selama ini sadar maupun tidak telah luput dari pandangan masyarakat Indonesia. Dari awal sampai terbentuknya Indonesia, semuanya dikupas lebih komprehensif dan akurat. Dengan gaya tulisan ilmiah yang tetap enak dibaca, baik oleh pembaca umum dan khususnya para ahli-ahli sejarah Indonesia.

Dengan kehadiran buku ini tentu akan menyadarkan kita sebagai masyarakat Indonesia bahwa bangsa-negara Indonesia ini bukan lahir semata karena koinsidensi, melainkan lahir dari kolase gagasan yang direnungkan dengan serius dan melalui proses yang panjang.

Sejarah adalah lautan tanpa tepi — yang mengutip Ibnu Khaldun (1332- 1406) dalam al-Muqaddimahnya — sejarah adalah suatu penalaran kritis dan kerja yang amat cermat dalam mencari suatu yang haq (kebenaran), dan tak terjebak pada hal-hal yang bersifat tendensius.

GERAKAN NASIONALIS-AGAMAIS DI PENTAS SEJARAH

Judul : Manusia di Panggung Sejarah

Penulis : Kholid O. Santosa

Penerbit : Sega Arsy, Bandung

Cetakan : Pertama, Juni 2007

Tebal : xii + 216 halaman


Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, tentang apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Namun, perlu ditegaskan bahwa kehadiran sejarah bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Sejarah mempunyai kepentingan masa kini dan, bahkan, untuk masa yang akan datang.

Sejarawan Ceko, Milan Hubl, pernah mengatakan, langkah pertama menaklukkan suatu bangsa adalah dengan merusak ingatannya. Musnahkan buku-buku, kebudayaan, dan sejarahnya. Lalu, perintahkan seseorang untuk menulis buku-buku baru, membangun kebudayaan baru, dan menyusun sejarah baru. Tinggal menggantang waktu, bangsa itu akan lupa pada masa kini dan lampaunya.

Ini pula yang mendasari Kholid O. Santosa untuk mendedah fakta sejarah perjuangan tokoh-tokoh Islam yang mulai “dibengkokkan” bahkan disingkirkan secara perlahan. Banyak murid sekolah yang tidak tahu siapa tokoh-tokoh Islam di pentas sejarah pergerakan nasional dalam rangka melahirkan bangsa ini. Bahkan para guru dan mahasiswa juga cenderung enggan mengetahui.

Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya buku-buku sejarah yang mengupas tuntas kesejatian tokoh-tokoh (muslim agamis) tersebut, berikut langkah-langkah perjuangan, pemikiran, dan karya intelektualnya di jagat patriotisme dan nasionalisme.

Senafas dengan Milan Hubl, pembengkokan sejarah telah mengakibatkan manipulasi pemahaman sosial-politik masyarakat tentang perjalanan dan lahirnya bangsa Indonesia dalam perspektif sejarah. Untuk itu, bangsa ini membutuhkan para pelurus sejarah yang memiliki daya gugah tinggi menuju perubahan.

Saat ini, manusia di negeri ini telah miskin bahkan kehilangan nasionalisme. Bak oase di tengah kegersangan masyarakat akan nasionalisme dan patriotisme, buku ini hadir menginjeksikan spirit nasionalisme dan pandangan lurus terhadap para tokoh sejarah, tanpa dicederai oleh pembengkokan dan manipulasi sejarah di setiap generasi.Data-data sejarah telah banyak menunjukkan bahwa sejak awal perkembangannya, Islam telah menanamkan akar perjuangan yang dalam.

Diawali Kerajaan Samudera Pasai di Sumatera yang menjadi ikon “Serambi Mekah”, kemudian Kerajaan Ternate dan Tidore di Sulawesi, lalu diteruskan kerajaan-kerajaan kecil lain yang tidak atau belum sempat menancapkan tonggaknya, menjadi bukti pemahaman bahwa perlawanan rakyat terhadap kolonial baik Spanyol, Portugis, maupun Belanda, adalah perlawanan di atas ruh dan semangat Islam.

Sepanjang sejarah, para tokoh itu (ulama dan kiai) selalu tampil memegang kendali dan menjadi pemimpin nonformal yang didukung di atas keterikatan batin rakyat. Suara agama yang diusung mereka amat mujarab untuk memantik dukungan rakyat melabeli perlawanan-perlawanan itu dengan perang suci dalam rangka membela kebenaran dan mengenyahkan kebatilan.

Semangat nasionalisme, cita-cita, dan pemikiran para tokoh semisal Ahmad Dahlan (1868), Hasjim Asj’ari (1871), Abdul Karim Amrullah (1879), hingga Jenderal Soedirman (1916) dan Kahar Muzakar (1921), ditutur secara detail dan mencerahkan. Sehingga, mampu menggugah kesadaran bahwa pemikiran dan gerakan tokoh-tokoh Islam tersebut selalu dilandasi semangat kebangsaan. Pun, berdirinya ormas-ormas Islam seamsal Sarekat Islam (SI), Muhammadiyah, NU, dan sebagainya, di antaranya dilatari semangat nasionalisme parafounding fathers-nya.

Barangkali kita sedikit tercekat dengan dimasukkannya nama terakhir (Kahar Muzakar) dalam deretan tokoh-tokoh Islam yang menorehkan sejarah perjuangan di Tanah Air ini. Ini merupakan keberanian tersendiri penulis buku ini dibanding penulis-penulis lainnya.

Selama ini, tidak banyak yang diungkap oleh buku sejarah tentang Kahar Muzakar, kecuali pemberontakannya terhadap RI. Namun, melalui buku ini, Kholid memperlihatkan objektivitasnya dalam memandang tokoh tersebut sebagai “patriot yang gugur sebagai pemberontak”.

Nasionalisme dan patriotisme tokoh-tokoh itulah yang hendak disemaikan penulis agar menjadi acuan generasi bangsa dalam mewujudkan negara yang adil, makmur, demokratis, dan bersemangat juang.

Catatan Perempuan Wartawan di Tengah Konflik Timtim

Judul: Timor Timur, Satu Menit Terakhir
Penulis: CM Rien Kuntari
Penerbit: Mizan Pustaka, Bandung
Cetakan: November 2008
Tebal: 483 halaman
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGXxgrc75pIBJ2dBSdoxdp2Hpx_Fm05LwPUVu8HU3KWKy_DwLjBFIPysapxZm6MR-y-zKzT90qWIxckcHv0an2qtyxJwG0nuLWtT5CPwUTlr5FonvP5MaVSqdwbgkoT8AUVZRmqHD1aEi9/s320/Timtim.jpg
Peristiwa lepasnya Timor Timur (Timtim) dari Indonesia diwarnai berbagai konflik, baik secara politik maupun sosial. Bahkan konflik tersebut berujung pada pertumpahan darah. Hal yang mengusik keingintahuan adalah, bagaimana seorang juru warta harus bersikap di tengah konflik tersebut.

Itulah yang dicoba disampaikan buku ini. Penulisnya, CM Rien Kuntari, tidak hanya mengisahkan berbagai peristiwa yang terjadi di Timtim baik menjelang maupun sesudah jajak pendapat, tetapi juga bagaimana ia sebagai seorang wartawan harus bertindak dan bersikap di tengah pihak-pihak yang sedang bertikai.

Dalam buku ini, Rien menyampaikan banyak pengalamannya selama melakukan tugas jurnalistiknya yang mungkin tidak pernah ia tulis dalam pemberita. Salah satu alasannya adalah untuk meredam konflik ataupun gesekan sosial yang semakin melebar. Sebab, seperti dikisahkan Rien, tulisan dalam media dapat mengubah sikap kelompok-kelompok tertentu di Timtim dalam sekejap. Kemarahan kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan dapat terpicu setelah mengetahui tulisan yang dimuat di dalam media.

Bahkan tidak jarang tulisan tersebut dapat memunculkan tuduhan dan "cap" tertentu pada sebuah media, misalnya media yang mendukung integrasi, atau media yang justru mendukung kemerdekaan Timtim. Bahkan, karena hal itu, acap kali wartawan dari media yang bersangkutan menjadi sasaran kemarahan kelompok-kelompok yang bertikai.
Rien misalnya pernah menjadi target kemarahan pasukan milisi. Kelanjutannya, muncul skenario untuk menculik dan "menghabisi" wartawan Kompas (penulis adalah wartawan harian Kompas) tersebut. Menurut informasi yang ia dapat, rencana tersebut dikeluarkan dalam rapat tertutup antara pihak pro-otonomi yang melibatkan pasukan Aitarak dan FPDK (Forum Persatuan Demokrasi dan Keadilan).

Di mata kelompok pro-integrasi Rien merupakan wartawan yang telah melakukan dosa yang tidak terampuni, yakni memberikan berita yang seimbang dalam pemberitaan untuk pihak pro-kemerdekaan. Bahkan kepiawaian Rien dalam menjalin hubungan pihak-pihak pro-kemerdekaan telah memunculkan tuduhan dirinya bukan seorang nasionalis. Hal ini menguat ketika Kompas menurunkan laporan tentang Falintil dan wawancara khusus dengan Taur Matan Ruak dalam tiga halaman penuh pada HUT Falintil ke-24.

Padahal Rien sendiri hanya melakukan profesinya sebagai wartawan secara profesional, yakni tidak memihak pada salah satu kubu yang sedang berseberangan secara kepentingan. Namun di lapangan, seperti di wilayah konflik, kenetralan ini dapat diartikan lain. Dengan begitu, seorang wartawan memang dituntut lebih peka lagi dalam melakukan kegiatannya di wilayah tersebut.
Teror dan intimidasi terhadap wartawan memang hal yang biasa terjadi di Timtim pada masa sekitar jajak pendapat. Salah satu korban yang dicatat oleh Rien adalah wartawan Financial Times biro Jakarta, Robert Thoenes. Menurut Rien, wartawan itu tewas terbunuh dengan sayatan di seluruh bibir dan sebagian wajahnya.

Hal lain yang menarik dari buku ini adalah keterusterangan Rien dalam mengungkapkan fakta yang ditemuinya di Timtim, misalnya saja ia mengisahkan bagaimana kekejaman kaum milisi menghabisi rombongan misonaris yang hendak pergi ke Los Palos dari Baucau. Peristiwa ini terjadi sekitar bulan September 1999. Pada saat itu, sembilan orang tewas dengan menyedihkan, di antara para misionaris terdapat seorang sopir, dua orang pemudi, dan satu orang wartawan.

Rien sendiri mengakui, ketika dirinya menjadi target pembunuhan kaum milisi, ia mengalami ketakutan yang luar biasa. Sebagai manusia biasa, ia juga merasakan kengerian ketika warga Timtim yang sebelumnya tampak ramah, tiba-tiba berbalik menjadi tidak bersahabat dan bahkan menampakkan sikap permusuhan. Bahkan sebelumnya ia juga sempat dihadang moncong pistol yang dihadapkan ke arah kepalanya dari jarak dekat.

Namun, nalurinya sebagai wartawan tidak menyurutkan ia untuk kembali ke Timtim. Ia seperti merasa "gatal" jika hanya memantau perkembangan situasi di Timtim dari Jakarta. Ia merasa harus langsung berada di Timtim untuk melihat apa saja yang sebenarnya terjadi di wilayah itu, ketimbang mengutip dari berbagai media asing dengan berbagai versi.

Itu sebabnya, ketika INTERFET (International Force for East Timor) yang dikomandani Australia memintanya untuk kembali ke Timtim pada pertengahan Oktober 1999, ia langsung menyambutnya. Apalagi hal ini didukung oleh atasan Rien di harian tempatnya bekerja.
Mengenai hal ini, Rien menuliskan, bahwa pada akhirnya INTERFET membutuhkan media juga untuk mengimbangi pemberitaan negatif mengenai Australia. Padahal sebelumnya wartawan Indonesia betul-betul mengalami perlakuan diskriminasi dari pasukan tersebut.

Memang, persoalan Timtim tidak lepas dari persoalan hubungan antara Australia dan Indonesia. Sejak pasukan INTERFET tiba di Indonesia, hubungan kedua negara ini selalu memanas. Hal ini tidak lepas dari sikap Australia yang arogan terhadap Indonesia. Hal ini bahkan menyulut protes dari Indonesia.

Salah satu kasus yang memicu ketegangan antara Indonesia dan Australia adalah operasi rahasia yang dilakukan oleh Australia di wilayah Timtim. Meskipun hal ini diprotes oleh pihak TNI, namun pihak Australia tetap tidak ambil pusing. Pada perkembangan berikutnya, aksi Australia ini mengundang kemarahan sejumlah negara, termasuk Amerika. Kemarahan Amerika tersebut dipicu oleh keengganan Australia untuk membagi hasil dari operasi rahasia tersebut.

Hal lain yang menarik dalam buku ini adalah bagaimana sebagai seorang wartawan Rien memiliki tanggung jawab yang tidak sekadar menuliskan berita secara netral tetapi berpikir dengan spektrum ataupun kepentingan yang luas. Misalnya saja ketika ia menghadiri homili Uskup Mgr Filipe Ximenes Belo, SDB pada misa penutupan bulan Oktober, atau bulan devosi kepada Bunda Maria.

Dalam khotbahnya ketika itu, uskup justru menjelek-jelekkan Indonesia. Bahkan secara terang-terangan ia menyerang kaum milisi dengan menyatakan kaum milisi harus "mencuci tangan yang berlumuran darah", dan menebus dosa yang telah diperbuatnya secara setimpal.
Khotbah tersebut disampaikan secara berapi-api seakan tidak satupun kebaikan di pihak Indonesia. Padahal ketika kekacauan di Timtim memuncak justru dialah yang lari meninggalkan umatnya di Timtim, dan misionaris Indonesialah yang tetap berada di Timtim.

Isi khotbah tersebut membuat Rien bertanya-tanya, apakah benar ia tengah mendengar khotbah dari seorang penerima Nobel Perdamaian? Jika menuruti keinginan hati, mungkin Rien ingin menuliskan apa yang didengarnya itu ke dalam berita. Namun pada saat itu ia teringat kepada Xanana, Taur Matan Ruak, dan Falur Rate Laec. Ketiga tokoh Timtim yang tidak pernah lepas dari senjata itu justru selalu meniupkan angin perdamaian, rekonsiliasi dan perdamaian.
Akhirnya, Rien memilih memihak kepada Xanana dan kawan-kawannya. Ketimbang menuliskan berita yang berisi ucapan menyakitkan dari sang uskup yang mungkin akan menyulut gesekan yang lebih luas, baik ia menuliskan berita yang lebih menyejukkan setiap pihak. Sebab dengan begitu perdamaian di Timtim akan lebih mudah terwujud.

Secara garis besar, dalam buku ini dapat dilihat bagaimana seorang wartawan menjalankan tugasnya. Wartawan tidak hanya dituntut untuk memiliki kepiawaian dalam menjalankan profesinya, serta keberanian dalam menghadapi situasi yang paling ekstrem, tetapi juga mempunyai hati untuk menentukan keutamaan. Virtus in medio, keutamaan itu ada di tengah.