Kamis, 03 Maret 2011

ENERGI PELUKAN

Suatu hari di gua Hira, Muhammad SAW tengah
ber’uzlah, beribadah kepada Rabbnya. Telah sekian
hari ia lalui dalam rintihan, dalam doa, dalam puja dan
harap pada Dia Yang Menciptanya. Tiba-tiba muncullah sesosok
makhluk dalam ujud sesosok laki-laki. “Iqra!” katanya.
Muhammad SAW menjawab, “Aku tidak dapat membaca!” Lakilaki
itu merengkuh Muhammad ke dalam pelukannya, kemudian
mengulang kembali perintah “Iqra!” Muhammad memberikan
jawaban yang sama dan peristiwa serupa pun terulang hingga
tiga kali. Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang
diajarkan lelaki itu. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi
wahyu pertama yang yang diturunkan Allah kepada Muhammad
melalui Jibril, sang makhluk bersosok laki-laki yang menemui
Muhammad di gua Hira.
Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari Khadijah isterinya
dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!”. Ia gemetar ketakutan,
dan saat itu, yang paling diinginkannya hanya satu, kehangatan,
ketenangan dan kepercayaan dari orang yang dicintainya.
Belahan jiwanya. Isterinya. Maka Khadijah pun menyelimutinya,
memeluknya dan mendengarkan curahan hatinya. Kemudian
ia menenangkannya dan meyakinkannya bahwa apa yang
dialami Muhammad bukanlah sesuatu yang menakutkan,
namun amanah yang akan sanggup ia jalankan.

Dalam sebuah pelatihan manajemen kepribadian. Para
instruktur yang juga para psikolog tengah mengajarkan
berbagai terapi penyembuhan permasalahan kejiwaan. Dari
semua terapi yang diberikan, selalu diakhiri dengan pelukan,
baik antar sesama peserta maupun oleh instrukturnya. Namun
demikian, mereka mempersilakan peserta yang tidak bersedia
melakukan pelukan dengan lawan jenis untuk memilih partner
pelukannya dengan yang sejenis. Yang penting tetap berupa
terapi pelukan. Menurut mereka, pelukan adalah sebuah terapi
paling mujarab hampir dari semua penyakit kejiwaan dan emosi.
Pelukan akan memberikan perasaan nyaman dan aman bagi
pelakunya.
Pelukan akan menyalurkan energi ketenangan dan kedamaian
dari yang memeluk kepada yang dipeluk. Pelukan akan
mengendorkan urat syaraf yang tegang. Hal ini juga dibenarkan
dari hasil penelitian bahwa, kita butuh empat kali pelukan per
hari untuk bertahan hidup, delapan supaya tetap sehat, dan dua
belas kali untuk pertumbuhan. Jika ingin terus tumbuh, kita
butuh dua belas pelukan per hari. Pelukan berkhasiat
menyehatkan tubuh. Pelukan merangsang kekebalan tubuh kita.
Pelukan membuat kita merasa istimewa. Pelukan memanjakan
sifat kekanak-kanakan yang ada dalam diri kita. Pelukan
membuat kita lebih merasa akrab dengan keluarga dan teman-teman.
Riset membuktikan bahwa pelukan dapat menyembuhkan
masalah fisik dan emosional yang dihadapi manusia di zaman
serba stainless steel dan wireless ini. Bukan hanya itu saja, para
ahli mengemukakan bahwa pelukan bisa membuat kita panjang
umur, melindungi dari penyakit, mengatasi stress dan depresi,
mempererat hubungan keluarga dan membantu tidur nyenyak.
(The Aladdin Factor, Jack Canfield & Mark Victor Hansen.”)
Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga
menemukan bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin
dalam darah meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan
otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat dan mempercepat
proses penyembuhan. Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa
menyembuhkan penyakit “hati” dan merangsang hasrat hidup
seseorang. Berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh
jurnal Psychosomatic Medicine, pelukan hangat dapat
melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan
perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan
hormon penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh.
Hasil hasil penelitian tersebut, memberikan keterangan ilmiah
atas kecenderungan dalam diri setiap manusia untuk
mendapatkan ketenangan dan kehangatan melalui pelukan.
Penelitan tersebut memberikan fakta ilmiah atas besarnya
energi yang dapat disalurkan melalui pelukan.
***
Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dalam rumah yang di
dalamnya pelukan adalah sesuatu yang tidak lazim, dan kita
mungkin merasa tidak nyaman minta dipeluk dan memeluk.
Kita mungkin pernah digoda sebagai “si anak manja” jika sering
memeluk atau dipeluk Ayah, Ibu atau saudara kandung kita. Dan
jadilah kita atau remaja-remaja kita saat ini, tumbuh dengan
kekurangan energi pelukan.
Bisa jadi, kekurangan energi pelukan ini adalah termasuk salah
satu faktor yang menyebabkan maraknya kasus ketidakstabilan
emosi manusia seperti yang terjadi belakangan ini: tingginya
angka kriminalitas dan narkoba pada golongan anak dan remaja,
kesurupan di berbagai sekolah dan sebagainya.
Dan bisa jadi, sesungguhnya solusi untuk mengurangi berbagai
permasalahan itu sebenarnya sederhana saja: Pemberian
pelukan kasih sayang yang banyak kepada anak-anak dari orang
tuanya. Bukankah Rasulullah sangat gemar memeluk isteri, anak,
cucu, dan bahkan anak-anak kecil di lingkungannya dengan
pelukan kasih sayang? Bahkan pernah ada satu kisah ketika
Rasulullah mencium dan memeluk cucunya, seorang sahabat
menyatakan bahwa hingga ia punya 10 orang anak, tak satu pun
yang pernah ia curahi dengan peluk cium.
Rasulullah saat itu berkomentar, “Sungguh orang yang tidak mau
menyayang (sesamanya), maka dia tidak akan disayang.” (riwayat
Al-Bukhari)
***
So mulai sekarang, jangan ragu untuk memeluk ataupun minta
dipeluk. Apa yang kita perlukan saat kita marah, sedih ataupun
kecewa adalah sebuah pelukan, pelukan sayang dari suami,
orang tua atau orang yang kita kasihi.Pelukan itu dapat
menenangkan, membuat kita merasa nyaman dan disayang.
Begitu juga setelah adanya perang mulut atau berantem antara
suami istri? Saling memeluklah. Karenan pelukan itu akan
menurunkan emosi dan menenangkan hati. Pelukan itu akan
merekatkan kembali ikatan cinta antara suami istri setelah luka
dan kecewa yang sempat tertoreh. Pelukan itu, akan membuat
kehidupan rumah tangga menjadi makin mesra.
Segala sedih, segala marah, segala kecewa, dan segala beban
hilang oleh kehangatan pelukan. Selanjutnya jadikanlah pelukan
sebagai suatu kebiasaan dalam menjalani hari-hari. Hal pertama
yang saya inginkan ketika tiba di rumah sepulang dari kantor
atau dari bepergian adalah memeluk istri. Memeluknya erat-erat.
Itu saja. Tak Lebih. Hal pertama yang saya inginkan ketika
saya bangun dari tidur adalah memeluk dan dipeluk istri saya.
Memeluknya kuat-kuat. Itu saja. Bukan yang lainnya.
Jika kami bangun pada jeda waktu yang tak sama, maka ‘utang’
kebiasaan itu dilakukan setelah shalat lail atau shalat subuh. Jika
kami tidur di kamar yang berbeda, biasanya jelang subuh atau
habis shubuh, salah satu dari kami akan menyusul yang lainnya.
Hanya untuk satu hal saja: memeluk dan dipeluk.
Saat malam menjelang tidur, kami terbiasa tiduran dan saling
memeluk, berlama-lama sambil berbincang tentang aktifitas
kami seharian. Ada kata-kata yang minimal tiga kali sehari saya
ucapkan kepada istri saya, “I Love U” dan “Minta peluk!”
Rasanya ada yang kurang jika kekurangan pelukan dalam sehari.
Pelukan memberiku rasa aman dan nyaman. Pelukan, saya
rasakan memberikan kehangatan yang tak tergantikan oleh
apapun. Berani mencoba?

============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 440-444. ISBN 978-6028-686-938.

MANGKOK TANPA ALAS

Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari
istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian,
ia berpapasan dengan seorang pengemis.
Sang raja menyapa pengemis ini, “Apa yang engkau inginkan
dariku?”
Si pengemis itu tersenyum dan berkata, “Tuanku bertanya,
seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.”
Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, “Tentu saja aku dapat
memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!”
Maka menjawablah sang pengemis, “Berpikirlah dua kali, wahai
tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.”
Rupanya sang pengemis bukanlah sembarang pengemis.
Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak
senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang
pengemis. “Sudah aku katakan, aku dapat memenuhi
permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling
berkuasa dan kaya-raya.”
Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu
mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, “Tuanku dapat
mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.”
Bukan main! Raja menjadi geram mendengar ‘tantangan’
pengemis di hadapannya.
Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut
dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang
ajar ini dengan emas! Kemudian bendahara menuangkan emas
dari pundi-pundi besar yang dibawanya ke dalam mangkuk
sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundi-pundi
besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.
Tak mau kehilangan muka di hadapan rakyatnya, sang raja terus
memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi
mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan
kerajaan: emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis
dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar,
berlubang.
Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh di
kaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbatabata
ia bertanya, “Sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah
tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?”
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, “Mangkuk itu
terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang
mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada
kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman yang
mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika
akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang
telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu”.
Semuanya hilang ibarat emas intan berlian yang masuk dalam
mangkuk yang tak beralas itu. Kegembiraan, gairah, dan
pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses
untuk mendapatkan keinginan..
Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru.
Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan.
Anak cucumu kelak mengatakan: power tends to corrupt;
kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.
Raja itu bertanya lagi, “Adakah cara untuk dapat menutup alas
mangkuk itu?”
“Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika engkau pandai
bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat padamu,” ucap sang
pengemis itu, sambil ia berjalan kemudian menghilang.
============================================
Sumber artikel, dari buku:
Sudarmono, Dr.(2010). Mutiara Kalbu Sebening Embun Pagi, 1001 Kisah Sumber Inspirasi. Yogyakarta: Idea Press. Volume 2. Hal. 368-370. ISBN 978-6028-686-938.

Rabu, 23 Februari 2011

•Ù ·˙ TerimaLah dia apa adanya ˙·Ù •

Jika kamu memancing ikan,

Setelah ikan itu terlekat di mata kail,

Hendaklah kamu mengambil ikan itu,

Janganlah sesekali kamu LEPASKAN ia semula kedalam air begitu sahaja...

Kerana ia akan SAKIT oleh kerana bisanya Ketajaman mata kail kamu

& mungkin ia akan MENDERITA

selagi ia masih hidup...

Begitulah juga,

setelah kamu memberi banyak PENGHARAPAN kepada seseorang,

Setelah ia mulai MENYAYANGI kamu, hendaklah kamu MENJAGA hatinya,

Janganlah sesekali kamu MENINGGALKANNYA begitu saja...

Kerana dia akan TERLUKA oleh kenangan bersamamu,

dan mungkin TIDAK dapat MELUPAKAN segalanya,

selagi dia masih mengingati kamu...

Jika kamu MENADAH air biarlah berpada,

Jangan terlalu berharap pada takungannya,

dan menganggap ia begitu teguh,

Cukuplah sekadar untuk KEPERLUANMU sahaja...

Kerana apabila ia mulai RETAK,

tidak sukar untuk kamu menampal dan memperbaikinya semula,

bukannya terus dibuang begitu saja...

Begitulah juga,

Jika kamu sedang memiliki seseorang, TERIMALAH dia seadanya.

Janganlah kamu terlalu mengaguminya dan mengganggapkan dia begitu istimewa,

Anggaplah dia manusia biasa...

Kerana apabila dia melakukan KESILAPAN,

tidaklah sukar untuk kamu MEMAAFKANNYA

dan MEMBOLEHKAN hubungan kamu akan TERUS hingga ke akhir hayat.

Dan bukannya MENGHUKUMNYA dan MENINGGALKAN dia begitu saja,

kerana kamu merasa terlalu kecewa dengan sikapnya.

Lalu semuanya akan menjadi TERHENTI begitu saja.

Jika kamu MEMILIKI sepinggan nasi,

Yang kamu pasti baik untuk diri kamu, yang MENGENYANGKAN dan BERKHASIAT.

Mengapa kamu berlengah lagi? Coba mencari makanan yang lain?

Kerana terlalu ingin mengejar KELAZATAN...?

Kelak, nasi itu akan BASI sendiri dan kamu sudah tidak boleh menikmatinya lagi,

Kamu akan MENYESAL...

Begitulah juga,

Jika kamu telah bertemu dengan seorang INSAN,

Yang kamu pasti boleh membawa KEBAIKAN kepada dirimu, MENYAYANGIMU, MENGASIHIMU dan MENCINTAIMU,

Mengapa kamu berlengah lagi? Cuba MEMBANDINGKANNYA dengan yang lain...?

Terlalu mengejar KESEMPURNAAN...?

Kelak, dia akan BERJAUH HATI dan kamu akan KEHILANGANNYA,

apabila dia menjadi milik orang lain,

Kamu juga yg akan MENYESAL dan tidak ada gunanya lagi...

Oleh itu janganlah kita terlalu mengejar KESEMPURNAAN,

kerana ia bukanlah faktor utama KEBAHAGIAAN yang sempurna.

Sedangkan jika kita bisa memaafkan KESILAPAN orang yang kita sayang,

dan akur dengan KELEMAHANNYA sebagai manusia biasa,

serta BERSYUKUR dengan apa yang kita sudah MILIKI...

Kita akan BAHAGIA, BAHAGIA dan terus BAHAGIA,,, itu lebih BERMAKNA!

“Begitulah hidup ini,tiada yang abadi

yang patah kan tumbuh, yang hilang kan berganti,

namun yang berganti tidak mungkin sama seperti yang telah pergi”

Minggu, 20 Desember 2009

Resensi Buku Baru | Api Sejarah

Judul : Api Sejarah
Penulis : Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit : Salamadani
Tebal : 584 Halaman
Terbit : Juli


Mengungkap Fakta-Fakta Sejarah yang Terlupakan

MENELUSURI jejak sejarah, baik sejarah bangsa Indonesia dan dunia, jarang sekali terjadi atau ditemukan sesuatu yang mengejutkan. Semua seakan sudah ditulis begitu sempurna, lengkap, dan objektif sehingga tidak ada ruang untuk sekadar interupsi. Apalagi jarang terdapat buku-buku atau bahan pembanding untuk menguji sejarah yang telah dicatatkan dan dituturkan bertahun-tahun lamanya.

Alhasil, seperti kata Bung Karno dalam surat dari Endeh yang dimuat dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi Djilid I, selama ini kita “hanya mampu membaca abunya sejarah, tapi tidak dapat menangkap apinya sejarah.” Kita mungkin tahu dan hapal hari kemerdekaan, kebangkitan nasional, nama-nama para pahlawan. Namun, jarang mampu memahami makna dan fakta yang menggelora dalam sebuah peristiwa sejarah serta tokoh-tokoh di dalamnya.

Jadi tak usah heran dalam peringatan peristiwa sejarah penting lebih terasa hanya menjadi ajang seremonial dan agenda tahunan. Para pahlawan yang telah berjuang mengorbankan jiwa dan raga, hanya dihafal nama-namanya. Sejarah lebih sering dianggap sebagai kisah masa lalu, daripada sebuah perjalanan yang berkesinambungan untuk meraih kejayaan di masa depan.

Karena itu, perlu pemahaman untuk bisa lebih memaknai secara mendalam sebuah semangat dan cita-cita luhur di balik sejarah sebuah bangsa. Untuk itu, dimungkinkan pula adanya koreksi, untuk tetap menjaga makna cita-cita luhur di dalamnya sehingga sejarah bisa dijadikan perjalanan yang berkesinambungan sebuah bangsa untuk meraih kejayaan di masa depan.

Itu pula semangat yang ingin disampaikan dalam Buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara yang diterbitkan Salamadani. Buku setebal 584 halaman ini bukan buku sejarah biasa karena menampilkan fakta-fakta menyengat yang jarang terungkap dalam buku sejarah kebanyakan.

Buku ini memang mengupasnya dari sudut pandang bagaimana pengaruh Islam dan ulama dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun, akan terlalu berlebihan jika menuding buku ini hanya menonjolkan peran satu golongan. Sebab, buku ini mengajak kita untuk bersedia mengoreksi dan meletakkan fakta-fakta yang belum terungkap secara proporsional.

Dari hal yang paling sederhana, misalnya tentang kapan masuknya Agama Islam ke Indonesia. Menurut Prof Dr Buya Hamka dan KRH Abdullah bin Nuh, Islam sebenarnya sudah masuk nusantara pada abad ke-7. Bukan abad ke-13 dan setelah runtuhnya kerajaan-kerjaan Hindu dan Buddha seperti banyak ditulis dalam buku sejarah.

Sebab, pada abad ke-7 berdasarkan Berita China Dinasti Tang sudah ada masyarakat di pesisir barat Sumatera yang beragama Islam dan ditemukannya nisan ulama Syaikh Mukaiddin di Baros, Tapanuli. Dan, keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha bukan akibat dominasi kerajaan Islam, misalnya Kerajaan Majapahit hancur setelah diserang Raja Girindrawardhana dari Kediri bukan oleh Kerajaan Demak.

Fakta-fakta yang lebih menyengat dan dilupakan tentang sejarah perjuangan organisasi Islam dalam sejarah kebangkitan sampai kemerdekaan, juga diungkap secara gamblang. Istilah nasionalisme dan Indonesia merdeka sebenarnya pertama kali diperkenalkan oleh Central Sjarikat Islam (CSI) pada kongres nasional pertama di Bandung pada 1916.

Lalu, mengapa Hari Lahir Boedi Oetomo ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Padahal menurut MR AK Pringgodigdo dalam buku Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia, Boedi Oetomo dalam Kongres di Surakarta pada 1928 menolak cita-cita persatuan.

Buku ini layak diapresiasi sekaligus diuji fakta-fakta yang disajikan. Tentunya bukan mencari siapa yang benar dan salah. Lebih penting adalah meletakan fakta-fakta sejarah secara proporsional agar api semangat dan cita-cita luhur para pahlawan terus dilanjutkan untuk kejayaan Indonesia.

Judul: Pelumas Sejarah Indonesia

Penulis: Asvi Warman Adam

Tebal: xx + 270 hlm

Ukuran: 14 x 21 cm

Penerbit: Perpustakaan daerah


Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang pernah dan belum pernah dimuat di media massa. Sebagian merupakan pengantar beberapa buku sejarah. Sedang sebagian lainnya terdiri dari tinjauan buku terutama yang terbit setelah era reformasi 1998. Substansi yang dibahas merefleksikan perkembangan sejarah Indonesia mutakhir, sebagian besar buku yang dibicarakan itu tergolong kategori terlarang pada masa sebelumnya. Terdiri dari dua bagian: bagian pertama termasuk normal track (jalur normal), maksudnya upaya pengembangan historiografi Indonesia secara normal dalam jangka menengah dan panjang. Sedangkan bagian kedua, mungkin tergolong fast track (jalur cepat), artinya apa-apa yang perlu diperbaiki dalam waktu dekat.

Banyak orang lebih senang memperdebatkan istilah pelurusan sejarah yang dianggap kurang tepat. Kenapa tidak dipakai ungkapan “penulisan sejarah kembali”, ujar mereka. Inti persoalannya bukan pada peristilahan tetapi pengakuan terhadap kenyataan. Faktanya telah terjadi pembengkokan sejarah selama Orde Baru yang dilakukan oleh Nugroho Notosusanto dan kawan-kawan. Ini seyogianya diakui dulu baru kita boleh berdiskusi tentang soal istilah. Di dalam berbagai tulisan penulis telah menjelaskan tentang rekayasa sejarah yang dilakukan rezim Orde Baru. Buktinya semakin banyak bila ditelaah ulang SNI (Sejarah Nasional Indonesia) jilid 6.

Buku SNI telah mendapat kritik tajam dari BM Diah di Harian Merdeka8 April 1976 dan tulisan yang sama dimuat bersambung pada HarianMerdeka 18-20 September 1985. Tulisan ini kemudian dibukukan dalam BM Diah, Meluruskan Sejarah, Kumpulan Karangan, Jakarta: Pustaka Merdeka, 1987. Setelah membaca edisi pertama buku itu, Diah menulis “sejarawan Indonesia 1976 menghukum Sukarno”.

“Atas petunjuk Presiden Sukarno, PKI dan ormas-ormasnya dapat dengan aman melakukan intimidasi dan teror politik terhadap pihak-pihak dan tokoh-tokoh yang dianggap lawan, dengan mengatakan siapa saja menentang Nasakom, apalagi anti PKI adalah kontra revolusioner dan anti Bung Karno.”

Menurut Diah dalam hal ini Bung Karno telah dituduh dan dihukum, karena intimidasi dan teror PKI itu atas petunjuk Presiden Sukarno. Pada cetakan ketiga, bagian tersebut memang sudah tidak ditemukan lagi.

Pda SNI jilid 6 hlm. 17 tertulis “Di antara kaum nasionalis ada juga tokoh-tokoh yang menolak bekerjasama dengan pihak Jepang. Di antara yang terkenal adalah Sutan Sjahrir dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Sikap dari Tjipto selain alasan politik juga karena kesehatannya semakin mundur.” Di sini Amir Sjarifuddin tidak disebutkan. Semata-mata karena ia terlibat peristiwa Madiun 1948. Pada buku yang sama hlm. 161, perjuangan PDRI (Pemerintah Darurat republik Indonesia) hanya disebut datu kalimat. Sementara itu Sudirman begitu diagungkan. Tampak ganjil karena ia sakit keras tetapi masih memimpin gerilya secara total.

Lahirnya PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) dilatarbelakangi oleh hasrat Presiden Soeharto agar pelajaran sejarah tidak sekedar mengajarkan pengetahuan sejarah belaka, melainkan juga menanamkan nilai-nilai perjuangan bangsa dalam hati siswa. Keinginan Soeharto itu muncul setelah ia mendapat masukan dari Jenderal M. Yusuf bahwa calon taruna AKABRI memiliki pengetahuan yang dangkal tentang sejarah perjuangan bangsa. Dari kasus ini kelihatan bahwa urusan internal ABRI ternyata dijadikan urusan nasional. Kepentingan militer mendikte kepentingan masyarakat secara keseluruhan.

Novel Sejarah dan Kasus Perang Salib


buku_the-book-of-saladin
Pengarang: Tariq Ali
Penerbit Serambi
SBN: 978-979-024-043-8
592 hal. HVS
Ukuran: 13 x 20,5 cm
Terbit: Desember 2008


Sebuah novel yang berpretensi mengangkat peristiwa di masa lalu selalu dibayangi persoalan sejauh mana akurasi sejarah dan sejauh mana capain novel itu sendiri. Jika akurasi sejarahnya lebih kuat sedangkan capaian novelnya terabaikan, maka karya demikian lebih bersifat karya kesejarahan dibandingkan dengan karya sastra. Pun demikian ketika sebuah karya yang mengangkat masa lampau ternyata justru merancukan data masa lampau tersebut dan malah menjadikan capaian sastra sebagai satu-satunya tujuan.

Untuk karya demikian, tanggung jawab atas keotentikan dan kemasukakalan data menjadi sekunder dan mesti meletakkannya sebagai sebuah karya sastra. Karya sastra, dalam hal ini novel, akan cukup dalam dirinya ketika unsur-unsur kesastraannya terbangun dan mampu membuat dirinya utuh. Perihal apakah pretensi sejarahnya berhasil atau tidak, menjadi bukan prioritas utama.

Namun, sebuah novel yang hendak memaparkan kisah tokoh dalam sejarah semacam Kitab Salahuddin karya Tariq Ali, jelas-jelas berpretensi pada sejarah. Ia bisa dikatakan sebuah karya sejarah yang menggunakan medium novel sebagai cara agar pembaca yang tidak mungkin membaca laporan sejarah yang ketat dan kaku akan dengan mudah mengikutinya. Atau, sialnya, sang penulis tidak cukup data untuk membuat laporannya bisa dipertanggungjawabkan, sehingga untuk mudahnya, digunakanlah jalur penulisan novel sebagai siasat. Namun, alasan yang belakang itu sudah sepatutnya tidak pantas diletakkan pada karya Tariq Ali tersebut.

Kitab Salahuddin merupakan rekonstruksi fiksional atas kehidupan Sultan Salahuddin atau Sultan Saladin di telinga orang Barat. Sultan Salahuddin hidup semasa abad ke-12 Masehi dan sultan yang pernah merebut Jerussalem dari tangan orang Barat setelah kejatuhan Yerussalem selama Perang Salib Pertama pada 1099.

Namun, dalam deskripsinya, dalam novel Kitab Salahuddin, Sultan Salahuddin tidak digambarkan semata seorang sultan dengan pedang di tangan kanan dan Alquran di tangan kiri. Justru, sebagian besar novel ini berkonsentrasi pada kehidupan keseharian sang sultan beserta orang-orang terdekatnya. Bagaimana masa kecilnya, remajanya, masa akil balighnya, dan masa ia menanjak menjadi seorang panglima perang yang paling disegani di tanah Arab maupun di mata orang Barat.

Tariq Ali tidak segan-segan menggambarkan bagaimana situasi harem tempat perempuan-perempuan cantik menemani sang sultan dan bagaimana sang sultan mendapatkan perempuan-perempuan cantik itu. Seorang harem bernama Halimah dikisahkan sebagai seorang istri dari pembantu utama sang sultan yang selingkuh dengan lelaki lain.

Jika Sultan konsisten dengan hukum yang ada mestinya ia menghukum dengan merajam sampai mati. Namun tidak. Sang Sultan malah menyembunyikannya di harem dan menjadi salah satu selir untuk pemuas sultan. Ketika salah satu anggota masyarakat mengangkat masalah penyelewengan hukum tersebut dalam bentuk kesenian, tak tanggung-tanggung, sang pengkritik dihukum mati.

Dunia harem benar-benar bertolak belakang dengan ajaran Islam yang memperoleh perhatian besar dalam Kitab Salahuddin. Sisi gelap ini menjadi salah satu penyeimbang sifat ambisius orang-orang Islam sendiri untuk menegakkan keyakinannya. Berulang kali Sultan Salahuddin menegaskan bahwa pengusiran orang-orang Barat bukan semata menolak segala jenis campur tangan Barat, melainkan masa depan keyakinan Islam itu sendiri. Di sini semangat melawan Barat dimaknai sebagai jihad terhadap orang-orang kafir.

Alasan tersebut sangat terang ketika Sultan Salahuddin menegaskan perlunya merebut kembali Yerussalem dari tangan orang-orang Barat. Yerussalem jatuh ke tangan orang-orang Barat pada 1099 Masehi dan hampir seratus tahun kemudian, yaitu pada 1187 Masehi, Yerussalem dapat direbut oleh orang Arab.

Sebenarnya ada sedikit kerancuan antara Islam versus Kristen dalam perang salib itu. Islam sendiri bukan semata orang Islam tetapi meliputi Yahudi dan Kristen. Mereka berada satu payung kepemimpinan Sultan Salahuddin dalam melawan Barat.

Sekalipun imajiner, penulis buku biografi Sultan Salahuddin dalam novel ini, Tariq Ali, menempatkannya dalam kerangka ruang dan waktu semasa abab ke-12. Orang-orang Arab yang berkeyakinan Islam, Kristen, dan Yahudi, bahu-membahu dalam menangkis dan mengusir orang-orang Barat. Sementara, Barat sendiri dalam mendefinisikan orang-orang Arab sudah tentu Islam. Orang-orang Moor yang perlu diluruskan dan kalau tidak bisa, dihancurkan.

Kenapa Barat mendefinisikan orang-orang Arab sebagai Islam yang perlu diberadabkan? Ini sangat terkait dengan penciptaan mitos dalam benak orang-orang Barat sendiri agar terdapat kesatuan persepsi demi kepentingan yang sesungguhnya tidak hanya berurusan dengan masalah keyakinan. Masa Abad Pertengahan, Paus sangat kuat posisinya melebihi seorang raja. Ia mempunyai kekuatan nyaris di seluruh daratan Eropa Barat, kecuali wilayah-wilayah yang dikuasai orang-orang Arab — Kordoba dan Spanyol.

Dengan memanfaatkan sentimen terhadap orang-orang Arab dengan Islamnya dan jaringan kuasanya yang sampai pelosok-pelosok, Roma mengerahkan raja-raja yang berkuasa dan sukarelawan untuk menjadi pasukan Perang Salib. Knights Templar, pasukan Barat itu, dalam benaknya dilesakkan oleh sebuah keyakinan ketika mereka semakin banyak memenggal kepala orang-orang Islam, maka semakin terbuka lebarlah pintu sorga untuk mereka. Ambisi orang-orang Kristen selama Perang Salib semakin besar tatakala mereka disahkan untuk membawa harta benda selama mereka di Arab tanpa harus menyerahkannya kepada raja maupun Paus.

Knights Templar bukan pejuang suci, tetapi sekelompok berandalan yang dikumpulkan dengan janji-janji surga dan mereka menggunakan kesempatan itu untuk merampok harta benda orang Arab dan memperkosa perempuan Arab. Namun, setelah Knights Templar kaya dan tak tersentuh oleh raja, maka raja menghantam mereka dengan menfitnah dan menempatkan mereka dalam pesakitan.

Ambiguitas politik orang-orang Eropa dalam Perang Salib diangkat dalam Foucault’s Pendulum karya Umberto Eco. Karya Eco dapat dikatakan representasi orang Barat atas kebejatan orang Barat itu sendiri. Tak beda dengan Kitab Salahuddin karya Tariq Ali yang berusaha ‘objektif’ atas situasi kultur Arab dan Islam itu sendiri.

Sudut pandang yang digunakan dalam novel Kitab Salahuddin adalah orang-orang Arab, khususnya kalangan elitnya. Pembaca tidak hanya disuguhkan bagaimana keyakinan para penguasa Arab begitu luar biasanya dalam urusannya dengan orang-orang Barat, tetapi juga konflik-konflik yang ada di antara penguasa-penguasa Arab sendiri. Tidak jarang dengan kedatangan pasukan Barat, mereka melakukan intrik demi melanggengkan kekuasaan sekalipun harus menghamba kepada mereka yang berbeda, bahkan berlawanan dengan keyakinannya.

Wilayah kekuasaan di tanah Arab sendiri saat itu sangat rentan untuk pecah dan melakukan perlawanan dengan pusat. Sultan Salahuddin sendiri dalam novel ini sering kali digambarkan bertentangan dengan wilayah kerajaan lain dan perang demi mengukuhkan sebuah kekuasaan. Wilayah kekuasaan yang cenderung membelah diri itu disiasati dengan menempatkan sanak saudara untuk memimpin sebuah wilayah yang lebih kecil. Ini bertujuan untuk menciptakan sebuah kekuasaan yang relatif permanen dalam waktu yang lama.

Kekuasaan tradisional di banyak tempat cenderung bersifat paternalistik, seperti halnya Sultan Salahuddin dalam Kitab Salahuddin. Ia menempatkan keponakannya, Farrukh Shah dan Taki al-Din, sebagai penguasa kecil di daerah taklukan.

Namun, Sultan Salahuddin adalah pemegang prinsip moral yang tegas saat berurusan dengan tanah rampasan. Ketika ia merebut Yerussalem, Sultan tidak membunuh dan menjadikan kepala orang-orang Kristen sebagai hiasan tetapi membiarkan mereka hidup. Tidak mengharuskan orang-orang Kristen miskin membayar dan tetap mempertahankan gereja-gereja sebagai tempat beribadah. Sultan tidak membabibuta dengan menghancurkan Yerussalem dari pengaruh Kristen sebagaimana orang-orang Barat menghancurkan Yerussalem pada kejatuhannya tahun 1099.

Sejarah Islam abab ke-12 terasa sekali, sebab data tersebut berbentuk adegan cerita yang hidup. Sehingga, Edward Said pun berkomentar antara aspek historis dan hubungannya dengan takdir sangat meyakinkan sekali. Seolah-olah ketika Sultan Salahuddin memutuskan untuk menunaikan haji ke Mekkah dan kemudian meninggal dunia selama perjalanan tersebut, pembaca tidak disuguhkan fakta tetapi daya spiritual seorang Salahuddin.