Minggu, 20 Desember 2009

Indonesia dalam Bingkai Sejarah


indonesiaSumber: Tempo Interaktif, 13 April 2009
Penulis: R.E. Elson
Terbit : Desember 2008
Penerbit: Serambi
ISBN: 978-979-024-105-3
Halaman: 580 hlm

Sejarah selalu bergulir sesuai dengan perubahan zaman. Siapa yang berkuasa, pasti dapat dikatakan merekalah yang menjadi pemegang utama dalam penulisan sejarah. Sejarah yang ditulis akan selalu menempatkan mereka pada titik tertinggi sesuai dengan keinginannya.

Benar tidaknya sejarah dalam peradaban, boleh dibilang tergantung siapa penguasanya, tak terkecuali di Indonesia. Dari sekian banyak penjajah yang pernah singgah, sejarah Indonesiapun muncul dalam banyaknya versi bak jamur di musim hujan. Setiap orang mengatakan bahwa sejarah merekalah yang benar. Akhirnya memunculkan kontroversi berkepanjangan. Dan sejarah tentang Indonesia pun menjadi sesuatu yang absurd.

Memang gagasan tentang awal pemikiran dan pembentukan Negara Indonesia sudah banyak menjadi perdebatan yang cukup alot, terlebih oleh sejarawan internasional. Pelbagai kalangan mengklaim merekalah yang memunculkan ide tentang pembentukan Indonesia. Khususnya sejarawan Belanda yang banyak memiliki data tentang Indonesia, sehingga mereka beranggapan cikal bakal Indonesia dibentuk mereka.

R. E. Elson, seorang tokoh ternama, lewat karyanya ini berusaha untuk mengenalkan kembali serta mencari asal-usul dari gagasan terbentuknya Indonesia, yang dimulai sejak pertengahan abad kesembilan belas.

Ia juga berupaya menelusuri lebih jauh lagi tentang pelbagai jalan berliku yang telah dilalui Indonesia hingga mampu eksis hingga kini. Dia mencari tahu mengapa Indonesia ada sebagai suatu negara-bangsa meskipun menghadapi begitu banyak tantangan, dan seperti apa bentuk-bentuk yang dulu pernah dilalui Indonesia.

Dia mencoba menjelaskan ciri bangsa ini dalam perjuangannya menuju kesatuan dan cita-cita. Analisisnya menyajikan narasi kronologis yang membedah politik Indonesia, tokoh-tokoh politik, serta hubungan mereka dengan rakyat Indonesia.

Jika kita telusuri lebih jauh, gagasan tentang Indonesia ini sebenarnya sudah lama mencuat. Gagasan ini pernah di lontarkan oleh JR Logan pada 1850-an. Ia merupakan seorang sejarawan dari Belanda yang berstatus sebagai editor majalah etnografi The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia.

Kurang lebih gagasan yang dimaksudkan adalah sebagai suatu bentuk mewadahi untuk apa yang kini disebut sebagai identitas Indonesia. Logan memilih, sebuah kesatuan negara-negara itu, dengan sebutan Indonesia dengan ungkapannya, “I prefer the purely geographical term, Indonesia, which merely shorter synonym for the Indians or the Indian archipelago.” Sampai kemudian pada simpulannya, “We thus get Indonesian for Indian Archipelagians or Indian Islanders.”

Sayangnya pada masa itu sulit bagi orang-orang yang mendiami sebuah kepulauan pada pertengahan abad ke-19 untuk membayangkan satu indentitas dengan 13.000 suku yang tersebar di Nusantara. Sehingga teori yang digunakan ini belum mampu diterima akal masyarakat. Ironisnya lagi masyarakat tak pernah mengetahui bahwa keterlibatannya dalam suatu ruang-waktu itu kemudian menjadi sebab-sebab adanya Indonesia.

Sembilan tahun kemudian, ketika sebuah novel monumental yang ditulis setelah pengumuman Logan tersebut, Max Havelaar (1859), karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker telah membuktikan fakta itu: semua yang digagaskan oleh JR Logan merupakan sebuah potret otentik yang bisa kembali menggugah kesadaran, yang semakin menguatkan seluruh masyarakat dunia bahwa pada dasarnya gagasan Indonesia telah terbentuk jauh pada abad-abad lampau.

Secara rasio, awal terbentuknya Indonesia memang merupakan gagasan luar biasa yang nyaris mustahil terjadi di tengah keterpurukan rakyatnya. Sepintas, bahan-bahan kesatuan nasional Indonesia tampak tak menjanjikan, sejarah Indonesia penuh noda perseteruan internal mendalam dan sering berlumur darah gara-gara perbedaan ideologi, suku, dan agama. Tapi, Indonesia sebagai konsep dan negara-bangsa terus ada, bahkan mungkin sedang mulai berjaya kembali.

Sayangnya masyarakatnya Indonesia sendiri kurang begitu antusias untuk lebih memahami awal terbentuknya Indonesia. Kebanyakan masyarakat Indonesia sudah merasa puas dengan kehidupan yang dijalani tanpa berani mempertanyakan kembali asal-usul tempat yang ditinggali.

Karya ini mencoba membenarkan bahwa Indonesia itu ada, meski hanya dalam pikiran orang, sebelum Indonesia benar-benar diwujudkan pada 1945. Secara keseluruhan, pemikiran dasar yang kontraversial tentang awal pembentukan sejarah Indonesia semuanya dikupas lebih jauh dalam buku ini (hal xxix).

Dengan piawai Elson memberikan penjelasan kepada seluruh masyarakat Indonesia secara lebih tepat dan terperinci tentang sejarah intelektual awal dari “gagasan dan ide terbentuknya negara Indonesia”. Suatu gagasan yang selama ini sadar maupun tidak telah luput dari pandangan masyarakat Indonesia. Dari awal sampai terbentuknya Indonesia, semuanya dikupas lebih komprehensif dan akurat. Dengan gaya tulisan ilmiah yang tetap enak dibaca, baik oleh pembaca umum dan khususnya para ahli-ahli sejarah Indonesia.

Dengan kehadiran buku ini tentu akan menyadarkan kita sebagai masyarakat Indonesia bahwa bangsa-negara Indonesia ini bukan lahir semata karena koinsidensi, melainkan lahir dari kolase gagasan yang direnungkan dengan serius dan melalui proses yang panjang.

Sejarah adalah lautan tanpa tepi — yang mengutip Ibnu Khaldun (1332- 1406) dalam al-Muqaddimahnya — sejarah adalah suatu penalaran kritis dan kerja yang amat cermat dalam mencari suatu yang haq (kebenaran), dan tak terjebak pada hal-hal yang bersifat tendensius.

GERAKAN NASIONALIS-AGAMAIS DI PENTAS SEJARAH

Judul : Manusia di Panggung Sejarah

Penulis : Kholid O. Santosa

Penerbit : Sega Arsy, Bandung

Cetakan : Pertama, Juni 2007

Tebal : xii + 216 halaman


Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu, tentang apa saja yang sudah dipikirkan, dikerjakan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Namun, perlu ditegaskan bahwa kehadiran sejarah bukan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri. Sejarah mempunyai kepentingan masa kini dan, bahkan, untuk masa yang akan datang.

Sejarawan Ceko, Milan Hubl, pernah mengatakan, langkah pertama menaklukkan suatu bangsa adalah dengan merusak ingatannya. Musnahkan buku-buku, kebudayaan, dan sejarahnya. Lalu, perintahkan seseorang untuk menulis buku-buku baru, membangun kebudayaan baru, dan menyusun sejarah baru. Tinggal menggantang waktu, bangsa itu akan lupa pada masa kini dan lampaunya.

Ini pula yang mendasari Kholid O. Santosa untuk mendedah fakta sejarah perjuangan tokoh-tokoh Islam yang mulai “dibengkokkan” bahkan disingkirkan secara perlahan. Banyak murid sekolah yang tidak tahu siapa tokoh-tokoh Islam di pentas sejarah pergerakan nasional dalam rangka melahirkan bangsa ini. Bahkan para guru dan mahasiswa juga cenderung enggan mengetahui.

Kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya buku-buku sejarah yang mengupas tuntas kesejatian tokoh-tokoh (muslim agamis) tersebut, berikut langkah-langkah perjuangan, pemikiran, dan karya intelektualnya di jagat patriotisme dan nasionalisme.

Senafas dengan Milan Hubl, pembengkokan sejarah telah mengakibatkan manipulasi pemahaman sosial-politik masyarakat tentang perjalanan dan lahirnya bangsa Indonesia dalam perspektif sejarah. Untuk itu, bangsa ini membutuhkan para pelurus sejarah yang memiliki daya gugah tinggi menuju perubahan.

Saat ini, manusia di negeri ini telah miskin bahkan kehilangan nasionalisme. Bak oase di tengah kegersangan masyarakat akan nasionalisme dan patriotisme, buku ini hadir menginjeksikan spirit nasionalisme dan pandangan lurus terhadap para tokoh sejarah, tanpa dicederai oleh pembengkokan dan manipulasi sejarah di setiap generasi.Data-data sejarah telah banyak menunjukkan bahwa sejak awal perkembangannya, Islam telah menanamkan akar perjuangan yang dalam.

Diawali Kerajaan Samudera Pasai di Sumatera yang menjadi ikon “Serambi Mekah”, kemudian Kerajaan Ternate dan Tidore di Sulawesi, lalu diteruskan kerajaan-kerajaan kecil lain yang tidak atau belum sempat menancapkan tonggaknya, menjadi bukti pemahaman bahwa perlawanan rakyat terhadap kolonial baik Spanyol, Portugis, maupun Belanda, adalah perlawanan di atas ruh dan semangat Islam.

Sepanjang sejarah, para tokoh itu (ulama dan kiai) selalu tampil memegang kendali dan menjadi pemimpin nonformal yang didukung di atas keterikatan batin rakyat. Suara agama yang diusung mereka amat mujarab untuk memantik dukungan rakyat melabeli perlawanan-perlawanan itu dengan perang suci dalam rangka membela kebenaran dan mengenyahkan kebatilan.

Semangat nasionalisme, cita-cita, dan pemikiran para tokoh semisal Ahmad Dahlan (1868), Hasjim Asj’ari (1871), Abdul Karim Amrullah (1879), hingga Jenderal Soedirman (1916) dan Kahar Muzakar (1921), ditutur secara detail dan mencerahkan. Sehingga, mampu menggugah kesadaran bahwa pemikiran dan gerakan tokoh-tokoh Islam tersebut selalu dilandasi semangat kebangsaan. Pun, berdirinya ormas-ormas Islam seamsal Sarekat Islam (SI), Muhammadiyah, NU, dan sebagainya, di antaranya dilatari semangat nasionalisme parafounding fathers-nya.

Barangkali kita sedikit tercekat dengan dimasukkannya nama terakhir (Kahar Muzakar) dalam deretan tokoh-tokoh Islam yang menorehkan sejarah perjuangan di Tanah Air ini. Ini merupakan keberanian tersendiri penulis buku ini dibanding penulis-penulis lainnya.

Selama ini, tidak banyak yang diungkap oleh buku sejarah tentang Kahar Muzakar, kecuali pemberontakannya terhadap RI. Namun, melalui buku ini, Kholid memperlihatkan objektivitasnya dalam memandang tokoh tersebut sebagai “patriot yang gugur sebagai pemberontak”.

Nasionalisme dan patriotisme tokoh-tokoh itulah yang hendak disemaikan penulis agar menjadi acuan generasi bangsa dalam mewujudkan negara yang adil, makmur, demokratis, dan bersemangat juang.

Catatan Perempuan Wartawan di Tengah Konflik Timtim

Judul: Timor Timur, Satu Menit Terakhir
Penulis: CM Rien Kuntari
Penerbit: Mizan Pustaka, Bandung
Cetakan: November 2008
Tebal: 483 halaman
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGXxgrc75pIBJ2dBSdoxdp2Hpx_Fm05LwPUVu8HU3KWKy_DwLjBFIPysapxZm6MR-y-zKzT90qWIxckcHv0an2qtyxJwG0nuLWtT5CPwUTlr5FonvP5MaVSqdwbgkoT8AUVZRmqHD1aEi9/s320/Timtim.jpg
Peristiwa lepasnya Timor Timur (Timtim) dari Indonesia diwarnai berbagai konflik, baik secara politik maupun sosial. Bahkan konflik tersebut berujung pada pertumpahan darah. Hal yang mengusik keingintahuan adalah, bagaimana seorang juru warta harus bersikap di tengah konflik tersebut.

Itulah yang dicoba disampaikan buku ini. Penulisnya, CM Rien Kuntari, tidak hanya mengisahkan berbagai peristiwa yang terjadi di Timtim baik menjelang maupun sesudah jajak pendapat, tetapi juga bagaimana ia sebagai seorang wartawan harus bertindak dan bersikap di tengah pihak-pihak yang sedang bertikai.

Dalam buku ini, Rien menyampaikan banyak pengalamannya selama melakukan tugas jurnalistiknya yang mungkin tidak pernah ia tulis dalam pemberita. Salah satu alasannya adalah untuk meredam konflik ataupun gesekan sosial yang semakin melebar. Sebab, seperti dikisahkan Rien, tulisan dalam media dapat mengubah sikap kelompok-kelompok tertentu di Timtim dalam sekejap. Kemarahan kelompok pro-integrasi dan pro-kemerdekaan dapat terpicu setelah mengetahui tulisan yang dimuat di dalam media.

Bahkan tidak jarang tulisan tersebut dapat memunculkan tuduhan dan "cap" tertentu pada sebuah media, misalnya media yang mendukung integrasi, atau media yang justru mendukung kemerdekaan Timtim. Bahkan, karena hal itu, acap kali wartawan dari media yang bersangkutan menjadi sasaran kemarahan kelompok-kelompok yang bertikai.
Rien misalnya pernah menjadi target kemarahan pasukan milisi. Kelanjutannya, muncul skenario untuk menculik dan "menghabisi" wartawan Kompas (penulis adalah wartawan harian Kompas) tersebut. Menurut informasi yang ia dapat, rencana tersebut dikeluarkan dalam rapat tertutup antara pihak pro-otonomi yang melibatkan pasukan Aitarak dan FPDK (Forum Persatuan Demokrasi dan Keadilan).

Di mata kelompok pro-integrasi Rien merupakan wartawan yang telah melakukan dosa yang tidak terampuni, yakni memberikan berita yang seimbang dalam pemberitaan untuk pihak pro-kemerdekaan. Bahkan kepiawaian Rien dalam menjalin hubungan pihak-pihak pro-kemerdekaan telah memunculkan tuduhan dirinya bukan seorang nasionalis. Hal ini menguat ketika Kompas menurunkan laporan tentang Falintil dan wawancara khusus dengan Taur Matan Ruak dalam tiga halaman penuh pada HUT Falintil ke-24.

Padahal Rien sendiri hanya melakukan profesinya sebagai wartawan secara profesional, yakni tidak memihak pada salah satu kubu yang sedang berseberangan secara kepentingan. Namun di lapangan, seperti di wilayah konflik, kenetralan ini dapat diartikan lain. Dengan begitu, seorang wartawan memang dituntut lebih peka lagi dalam melakukan kegiatannya di wilayah tersebut.
Teror dan intimidasi terhadap wartawan memang hal yang biasa terjadi di Timtim pada masa sekitar jajak pendapat. Salah satu korban yang dicatat oleh Rien adalah wartawan Financial Times biro Jakarta, Robert Thoenes. Menurut Rien, wartawan itu tewas terbunuh dengan sayatan di seluruh bibir dan sebagian wajahnya.

Hal lain yang menarik dari buku ini adalah keterusterangan Rien dalam mengungkapkan fakta yang ditemuinya di Timtim, misalnya saja ia mengisahkan bagaimana kekejaman kaum milisi menghabisi rombongan misonaris yang hendak pergi ke Los Palos dari Baucau. Peristiwa ini terjadi sekitar bulan September 1999. Pada saat itu, sembilan orang tewas dengan menyedihkan, di antara para misionaris terdapat seorang sopir, dua orang pemudi, dan satu orang wartawan.

Rien sendiri mengakui, ketika dirinya menjadi target pembunuhan kaum milisi, ia mengalami ketakutan yang luar biasa. Sebagai manusia biasa, ia juga merasakan kengerian ketika warga Timtim yang sebelumnya tampak ramah, tiba-tiba berbalik menjadi tidak bersahabat dan bahkan menampakkan sikap permusuhan. Bahkan sebelumnya ia juga sempat dihadang moncong pistol yang dihadapkan ke arah kepalanya dari jarak dekat.

Namun, nalurinya sebagai wartawan tidak menyurutkan ia untuk kembali ke Timtim. Ia seperti merasa "gatal" jika hanya memantau perkembangan situasi di Timtim dari Jakarta. Ia merasa harus langsung berada di Timtim untuk melihat apa saja yang sebenarnya terjadi di wilayah itu, ketimbang mengutip dari berbagai media asing dengan berbagai versi.

Itu sebabnya, ketika INTERFET (International Force for East Timor) yang dikomandani Australia memintanya untuk kembali ke Timtim pada pertengahan Oktober 1999, ia langsung menyambutnya. Apalagi hal ini didukung oleh atasan Rien di harian tempatnya bekerja.
Mengenai hal ini, Rien menuliskan, bahwa pada akhirnya INTERFET membutuhkan media juga untuk mengimbangi pemberitaan negatif mengenai Australia. Padahal sebelumnya wartawan Indonesia betul-betul mengalami perlakuan diskriminasi dari pasukan tersebut.

Memang, persoalan Timtim tidak lepas dari persoalan hubungan antara Australia dan Indonesia. Sejak pasukan INTERFET tiba di Indonesia, hubungan kedua negara ini selalu memanas. Hal ini tidak lepas dari sikap Australia yang arogan terhadap Indonesia. Hal ini bahkan menyulut protes dari Indonesia.

Salah satu kasus yang memicu ketegangan antara Indonesia dan Australia adalah operasi rahasia yang dilakukan oleh Australia di wilayah Timtim. Meskipun hal ini diprotes oleh pihak TNI, namun pihak Australia tetap tidak ambil pusing. Pada perkembangan berikutnya, aksi Australia ini mengundang kemarahan sejumlah negara, termasuk Amerika. Kemarahan Amerika tersebut dipicu oleh keengganan Australia untuk membagi hasil dari operasi rahasia tersebut.

Hal lain yang menarik dalam buku ini adalah bagaimana sebagai seorang wartawan Rien memiliki tanggung jawab yang tidak sekadar menuliskan berita secara netral tetapi berpikir dengan spektrum ataupun kepentingan yang luas. Misalnya saja ketika ia menghadiri homili Uskup Mgr Filipe Ximenes Belo, SDB pada misa penutupan bulan Oktober, atau bulan devosi kepada Bunda Maria.

Dalam khotbahnya ketika itu, uskup justru menjelek-jelekkan Indonesia. Bahkan secara terang-terangan ia menyerang kaum milisi dengan menyatakan kaum milisi harus "mencuci tangan yang berlumuran darah", dan menebus dosa yang telah diperbuatnya secara setimpal.
Khotbah tersebut disampaikan secara berapi-api seakan tidak satupun kebaikan di pihak Indonesia. Padahal ketika kekacauan di Timtim memuncak justru dialah yang lari meninggalkan umatnya di Timtim, dan misionaris Indonesialah yang tetap berada di Timtim.

Isi khotbah tersebut membuat Rien bertanya-tanya, apakah benar ia tengah mendengar khotbah dari seorang penerima Nobel Perdamaian? Jika menuruti keinginan hati, mungkin Rien ingin menuliskan apa yang didengarnya itu ke dalam berita. Namun pada saat itu ia teringat kepada Xanana, Taur Matan Ruak, dan Falur Rate Laec. Ketiga tokoh Timtim yang tidak pernah lepas dari senjata itu justru selalu meniupkan angin perdamaian, rekonsiliasi dan perdamaian.
Akhirnya, Rien memilih memihak kepada Xanana dan kawan-kawannya. Ketimbang menuliskan berita yang berisi ucapan menyakitkan dari sang uskup yang mungkin akan menyulut gesekan yang lebih luas, baik ia menuliskan berita yang lebih menyejukkan setiap pihak. Sebab dengan begitu perdamaian di Timtim akan lebih mudah terwujud.

Secara garis besar, dalam buku ini dapat dilihat bagaimana seorang wartawan menjalankan tugasnya. Wartawan tidak hanya dituntut untuk memiliki kepiawaian dalam menjalankan profesinya, serta keberanian dalam menghadapi situasi yang paling ekstrem, tetapi juga mempunyai hati untuk menentukan keutamaan. Virtus in medio, keutamaan itu ada di tengah.

BDP

Belajar dari Perjalanan

buku_honimun_

Sumber:, buku perpus
Pengarang: Franz Wisner
Penerbit: Serambi, Desember 2008
Tebal: 485 halaman

Dua lelaki bersaudara, secara tradisional dan universal, tampaknya tak bakal bisa kompak 100 persen. Ada saat ketika mereka akan berpisah jalan dan memilih lingkungan pergaulan sendiri-sendiri. Saat itulah yang biasanya dimulai di usia remaja, ketika mereka mulai merasa terasing satu sama lain.

Franz dan Kurt Wisner merasakannya. Kakak-beradik yang berbeda usia dua tahun ini bak Kutub Utara dan Selatan ketika Franz, sang kakak, berusaha menjauh dari adiknya jika ingin diterima oleh lingkungan anak-anak remaja keren.

Titik balik hubungan keduanya terjadi saat menjelang pernikahan Franz. Sepekan sebelum pernikahan, Annie, tunangan Franz selama 10 tahun, mencampakkannya. Padahal undangan sudah tersebar dan sebagian besar biaya perayaan serta bulan madu sudah dibayar.

Kekuatan persaudaraan dan pertemanan diuji pada saat genting seperti ini. Franz punya dua pilihan, membatalkan semua rencana pestanya atau tetap berpesta tanpa mempelai wanita. Dikompori oleh adik dan teman-temannya, Franz memilih alternatif kedua dan berpesta gila-gilaan.

Tapi penderitaan belum selesai. Sepekan kemudian Franz mendapat hantaman lagi: di kantornya. Jabatannya diturunkan, meski tetap mendapat bonus tahunan yang sangat besar.

Buat pembaca perempuan, kisah ini membuktikan satu hal: pria hetero yang tangguh di dunia karier sekalipun bisa termehek-mehek ketika sendirian merutuki nasib. Juga bahwa ketika tertimpa musibah, kesedihan berlipat justru hadir ketika tak ada lagi teman yang menepuk punggung memberi dukungan dan selesainya pesta-pesta pengusir duka.

Beruntung, Franz punya Kurt, yang sikapnya tak pedulian. Sayangnya, tak terlalu banyak digali bagaimana mungkin dua lelaki bersaudara yang sudah menjadi dua orang asing tiba-tiba sepakat untuk jalan bersama. Kurt sepertinya tak membuat banyak pertimbangan ketika setuju pada rencana Franz berkeliling dunia.

Mereka merencanakan perjalanan keliling dunia begitu saja. Mereka memutuskan berhenti bekerja, menjual rumah, menyumbangkan pakaian dan perabot mereka, membuang ponsel dan menghancurkan penyeranta dengan palu. Lalu bertualang yang diawali dengan memanfaatkan paket bulan madu yang telanjur dibayar.

Franz berangkat dengan kekhawatiran mereka akan berakhir saling mencekik dalam perjalanan. Franz sering khawatir atas Kurt, yang selalu percaya pemecahan masalah selalu ada di detik-detik terakhir yang menegangkan.

Pemanasan dilakukan dengan mengunjungi teman di Rusia dan Praha. Selanjutnya, mereka bertualang selama empat tahun. Bolak-balik ke Amerika dan 60 negara, termasuk Indonesia. Padahal, dalam dunia backpacker, pergi hingga lima tahun berturut-turut sama dengan sudah waktunya memeriksakan otak ke psikiater.

uga berbagai pesan bagi calon pengembara. Misalnya, buku Lonely Planet boleh jadi panduan tapi bukan buku suci. Bisa saja Anda mendatangi suatu tempat yang disebut di buku wisata sedang populer, ternyata pada saat Anda mendatanginya tempat itu sudah ketinggalan zaman.

Mereka mencoba menikmati hidup baru, mulai di Amerika Latin, Eropa Timur, Timur Tengah, Afrika, Australia, hingga Asia Tenggara. Setiap petualangan baru membawa mereka ke tempat yang lebih unik dan menarik, diwarnai kisah seru yang mereka alami.

Bertanya pada orang setempat, meski dengan bahasa tarzan, biasanya lebih menyenangkan dan kadang akurat. Dari orang-orang yang berpapasan di jalan Franz banyak belajar tentang makna hidup.

Bergabung dengan kaum backpacker juga menarik. Meski Franz tak bisa tidak mengkritik kaum ini, yang seolah menjadi duta tak resmi bangsa kulit putih yang melancong ke negeri asing. Mengagumi kekompakan dan keberanian mereka tapi juga ngeri pada cara hidup yang terlalu menyerahkan diri pada nasib di perjalanan.

Banyak petualangan aneh yang dicatat Franz dengan cukup terperinci, dari disangka pasangan gay, hingga terpaksa kabur dari perempuan di Praha, Trinidad, sampai Vietnam. Lalu dijebak menikahi gadis setempat hingga dicopet banci yang beroperasi di jalan. Mereka juga berhasil mengumpulkan sepuluh cara gila tapi efektif menangani pedagang asongan setempat.

Sayang, seperti pelancong mancanegara lainnya, mereka hanya menuju Bali saat di Indonesia. Sedikit cerita tentang Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Pulau Komodo, serta kacaunya pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Atau gagalnya rencana menjadi ahli sabung ayam ala Bali karena muntah-muntah saat salah satu ayam mati terpenggal. Semua disajikan dengan gaya bertutur yang menggelitik.

Di beberapa bagian, alur yang berulang dengan menceritakan petualangan yang sama lewat surat kepada sosok LaRue agak mengganggu. Atau kisah sakitnya Annie yang tak terlalu relevan dengan keseluruhan cerita. Sementara itu, kesadaran Franz akan cintanya pada Annie saat bertemu dengan banyak wanita cantik di dunia yang penuh petualangan hampir membuat tergelincir menjadi cerita yang cengeng.

Secara keseluruhan, membaca buku ini mengulik hasrat untuk bertualang. Minimal menjadi LaRue dan teman-temannya di rumah pensiun Eskaton, yang selalu bergairah mendengar petualangan Wisner bersaudara. Atau mengingatkan kembali bahwa beberapa ikatan persaudaraan dalam keluarga yang hilang tak berarti putus. Hanya perlu waktu dan kesempatan bersama untuk menemukannya kembali.

cintaku pergi

dalam benak ku
lama sudah tersimpan
segala rasa dan asa yang ada
ku'rasakan semua telah hilang
pergi dan terus menjauh dariku
aku ingin menjerit
meronta
namun....
hanya air mata yang mengalir
kadang aku merasa
hidup memang ga' adil
tapi aku sadar...
itu semua takdir ilahi
kesunyian selalu kurasakan
slamat tinggal kekasihku
ku'iringi kepergianmu
dengan segala tangis dan duka ku
bila kau mengerti aku..
kau tak akan pernah pergi dariku

pergilah kasihku....
pergilah sayangku....
kau kan selalu jadi bagian dari jiwaku...
kau kan selalu ada
dalam setiap aliran darahku
aku sayang kamu????

Engkau yang ada

saat-saat indah bersamamu...
mmenjirupkan udara yang segar..
engkau pancarkan matahari yang bersinar...
karena engkaulah dewiku...
yang selalu memberikan hidup dan matiku...


engkau adalah mutiara yang tak bisa ku pegang...
engaku adalah cahaya yang memancarkan keindahan
karena hanya dirimulah yang ada
ada akan hadirnya cinta dalam hidupku

angin akan menjadi saksi cuinta ini...
yang menjadikan bulan tanpa bintang
yanga menjadikan matahari tanpa cahaya
karena itulah kenyataan cinta kita...

perbedaan kitalah yang menyatukan cinta kita
dan kesamaan kitalah yang memberikan cinta
karena kitalah satu...
satu cinta, satu hati dan satu perbedaan...
yang membuat aku menjadi kuat
dan memberikan aku ketenangan
karena engkau yang ada untukku...
yang ada untuk mencintai...

Dalam Kenangan

perasaan cintaku ini...

tak bisa ku bendung lagi...

dimanakah waktu kan berkala...

menyetujui cinta ini...


aku semakin terhanyut dalam sepi..

kepedihan cinta dan kegagalannya

mengapa selalu bersemi di taman hatiku...

aku pun makin gak ngerti...

bahwa semua yang aku sayangi...

serasa pergi menjauh... meninggalkanku...

walau tidak begitu...

tapi aku mersa seperti itu...


aku memang bukan manusia sempurna...

tapi setidak-tidaknya...

aku bisa membahagiakan seseorang...

dan membuat seseorang merasa lebih berarti...

dari orang lain.....

Air Tawar

Lihat mereka (melamun kosong)
jam 8 berlalu...
kata damai urung terdengar...
bendera putih berganti kuning...
ibu2 berjalan tanpa alas kaki..
tepi sungai dipenuhi ilalang..

pagi ini bukan aku...
siang ini tak datang...
rasa ini tak berubah-ubah...
kawan lama tak mau datang...
larasati menutupi pelangi...
tundha-tunda tak terbatas...

janur kuning urung layu...
seribu tanya untuk semua...
awan berbaris urut...
bunga mekar menguning....
segaris lurus membawa kata ke pencerahan
putih...putih....putih... mencahaya..

Karya: Rizal Salechfi

Air Tawar

Ini Bukan coal aku kehilangan sahabat..
ini bukan soal aku kehilangan kekasih...
tapi ini soal ego kita yang naik membumbung..
suara jankrik dan serangga malam memenangkan aku
ku dengar suara anak kecil berbicara dewasa...


sahabat lawas tetap mekar....
sahabat baru gugur sebelum ber buah...
brung dara mencari jodohnya...
jejak-jejak pasir menghilang...
semarakkan keheningan lubuk...
roda kehidupan berputar....



sahabat abadi....
pagi...siang...malam tetap sama...
apa kata mereka angin malam...
kekasih mencari sahabat....
sahabat mencari kekasih...
itu aku anak kecil ysng bertingkah wajar...
tetsp semsngat berapi-api untuk kedepannya...
aku bukan anak kecil yang berpikir pendek...

Rizal....

Dalam Kenangan

lihatlah engaku keluar jendela ini...
burung-burung pagi tak datang menghampiri...
ibu2 jalan tanpa alas kaki...
menyusuri sungai di pagi hari...
hitam tataplah menjadi hitam...
putih tetaplah menjadi putih...

sang awan tak tampak dalam selimut...
seoarang kawan menjadi musuh...
matahari enggan menyinari lagi...
seperti bulan yang tak terlihat dilangit...
malam tetap jadi malam...
hati menjadi bisu...
mulut menjadi mata...
dan mata menjadi telinga...

sang bunga tak harum lagi
rasa sesal dalam hati...
tak bisa ku ungkiri lagi..
pasirpun enggan memberi keindahan...
panasnya matahari membakar jiwa...

sehabat menjadi sebuah sebongkah es...
yang meleleh dalam kenangan...
hujan menjadikan hati ini dingin...
seperti sang pengelana berjalan...
tak tau arah dan tujuan...
yang mesti kita jalani...
walaupun perih di hati....

Iyane....